Setelah mengakuisisi ruas Tol Cimanggis–Cibitung, Bakrie & Brothers (BNBR) kini bersiap menggelar rights issue. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat pondasi keuangan perusahaan.
Pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) itu dilakukan lewat PT Bakrie Toll Indonesia. Nah, aksi korporasi inilah yang kemudian mendorong manajemen untuk merapikan struktur pendanaannya. Mereka butuh dana segar untuk mendukung kinerja ke depan.
Dalam prospektus yang dirilis Senin (19/1/2026), rencananya BNBR akan menerbitkan saham baru seri E hingga 90 miliar lembar. Saham-saham itu berasal dari portepel, dengan nilai nominal Rp12 per lembar.
Lalu, uang hasil rights issue ini mau dipakai buat apa? Seluruh dananya akan dialokasikan untuk melunasi sebagian utang, baik di level induk perusahaan maupun anak usahanya. Selain itu, bakal dipakai juga buat menutup kebutuhan modal kerja.
“Manajemen perseroan berhak melakukan penyesuaian atas penggunaan dana dengan mempertimbangkan kondisi dan faktor-faktor lain yang dianggap layak,”
Begitu penjelasan manajemen BNBR dalam prospektus tersebut. Jadi, rincian penggunaan dananya nanti masih bisa disesuaikan dengan situasi saat rights issue benar-benar digelar. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan pengelolaan modal yang paling optimal.
Di sisi lain, rencana ini tentu membawa konsekuensi. Pemegang saham yang memilih untuk tidak ikut serta dalam rights issue berpotensi mengalami dilusi. Persentase kepemilikannya bisa menyusut, bahkan hingga maksimal sepertiga atau 33,33 persen.
Semua rencana ini tentu belum final. Perseroan masih harus mengantongi lampu hijau dari para pemegang saham. Rencananya, persetujuan akan diminta dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 27 Februari 2026 mendatang.
Artikel Terkait
Garuda Indonesia Pangkas Kerugian Hampir 40% di Kuartal I 2026
BEI Soroti Rencana Dividen Rp564 Miliar MDS Retailing, Ekuitas Dikhawatirkan Negatif
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
WSBP Catat Pendapatan Rp395 Miliar di Kuartal I 2026, Kontribusi Terbesar dari Jasa Konstruksi