Dia bahkan memberi warna naratif pada kunjungan Thomas ke BI sebelumnya. Seolah itu adalah bagian dari proses perkenalan. "Disuruh ngintip-ngintip di BI ada apa sih? Kan sudah ngintip dua kali, cukup. Jadi dia pindah ke sana juga cukup," selorohnya.
Namun begitu, skema pertukaran ini bukannya tanpa kritik. Banyak yang khawatir independensi bank sentral bisa tergerus. Ditanya soal itu, Purbaya malah balik mempertanyakan.
Dia tak melihat masalah. Baginya, ini cuma pertukaran biasa di internal pemerintah. "Kan tukar, BI juga pemerintah. Tukar kan? Itu satu exchange atau pertukaran yang saya pikir seimbang. Enggak ada yang aneh," tegasnya.
Bagi Purbaya, independensi BI baru patut dipertanyakan jika ada intervensi langsung pemerintah dalam keputusan moneter. Selama ini, klaimnya, hal itu tak pernah terjadi. Peran fiskal dan moneter tetap berjalan terpisah, meski koordinasi tetap dijalin lewat forum KSSK.
"Selama ini kan enggak ada. Jadi BI independen, kita jalankan fiskal, mereka jalankan moneter. Kita koordinasi di KSSK," paparnya.
Di sisi lain, pemerintah sudah mengonfirmasi Juda Agung mundur dari posisi Deputi Gubernur BI. Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut pengunduran diri itu memicu mekanisme formal pengisian jabatan. Prosesnya termasuk mengajukan nama calon ke DPR untuk diuji kelayakannya.
Dan dalam surat resmi ke DPR, pemerintah mengusung tiga nama. Salah satunya adalah Thomas Djiwandono, yang kini menjadi pusat perbincangan.
Artikel Terkait
Industri Guncang, Pasokan Gas Murah Tersendat di Jantung Produksi
Menteri Keuangan: IHSG Tembus Rekor, Rupiah Akan Menyusul
Tiga Nama Calon BI Bocor, Salah Satunya Keponakan Prabowo
Purbaya Buka Suara soal Pertukaran Juda Agung dan Thomas Djiwandono