Untuk menjawab rasa penasaran itu, Amran pun membeberkan beberapa hal. Ia menjelaskan berbagai teknik, termasuk soal penggunaan bibit unggul seperti bibit biosalin yang tahan kekeringan. Meski teknologi itu sebenarnya sudah lama ada, implementasinya di Indonesia yang menarik perhatian.
Di sisi lain, Amran mengakui bahwa pemerintah juga aktif belajar dari negara lain. Mereka tak mau ketinggalan. Untuk itu, dilakukanlah perbandingan dengan sejumlah negara yang dinilai sukses di bidang pertanian.
“Kami sengaja keliling dunia, kami ke China, mengecek teknologi orang. Kami ke China, kami ke Vietnam, kami ke Brasil. Ini Amerika, Arkansas, kami ke Dallas. Kami keliling, untuk melihat komparasi apa yang dilakukan negara lain,” paparnya dengan semangat.
Dari perjalanan itulah, kata Amran, muncul keyakinan bahwa Indonesia pasti bisa bersaing. Ia kemudian kembali menyinggung pertanyaan dari Jepang soal pencapaian Indonesia. Jawabannya, menurut Amran, terletak pada konsistensi dan bukti nyata di lapangan.
“Ternyata, para bupati, balik kota, gubernur yang ada, (caranya) sederhana. Kalau berhasil, apa pun kita cerita itu benar. Tapi kalau gagal, tidak ada cerita yang benar bagi kita,” ungkapnya.
Ia menekankan poin yang sama tentang pentingnya menunjukkan hasil, bukan sekadar wacana. “Ada bibit macam-macam. Apa pun kita cerita kalau sukses, itu orang nganggap. Tapi kalau kita impor, baru menceritakan teknologi, itu tidak ada kebenaran di dalamnya, menurut si pendengar,” tutur Amran.
Dengan nada penuh keyakinan, ia mengakhiri pernyataannya. “Indonesia pasti bisa. Pasti bisa.”
Artikel Terkait
Purbaya Santai Tanggapi Tukar Guling Thomas dan Juda Agung
Pemerintah Siapkan BUMN Tekstil Baru, Dana Rp 101 Triliun untuk Selamatkan Industri
Tiga Smelter Raksasa Vale Indonesia Pacu Progres, Target Operasi 2026-2027
Prabowo Ajukan Thomas Djiwandono untuk Isi Kursi Deputi Gubernur BI