Memasuki tahun 2026, operasional FSRU Lampung langsung diramaikan dengan kegiatan serah terima LNG. PT PGN LNG Indonesia (PLI) baru saja melaksanakan Ship-to-Ship Transfer (STS) pertama mereka tahun ini, sebuah langkah yang membuka rangkaian produksi gas alam cair di fasilitas terapung itu.
Kegiatan itu melibatkan pengiriman kargo LNG sekitar 140.500 meter kubik dari Terminal LNG Donggi Senoro di Sulawesi Tengah. Muatan itu berhasil dialihkan ke FSRU Lampung, menandai awal yang sibuk untuk fasilitas penyimpanan dan regasifikasi itu.
Sebelumnya, di akhir tahun 2025, PLI sudah mencatatkan pencapaian yang cukup solid. Mereka berhasil meregasifikasi 23 kargo LNG di tempat yang sama.
Nofrizal, Direktur Utama PGN LNG, menyatakan kesiapan timnya menghadapi target yang lebih padat.
"Memasuki tahun 2026, FSRU Lampung siap menerima 30 kargo LNG sesuai jadwal. Seluruh perwira PGN LNG bersama para mitra secara profesional menjaga keandalan operasional LNG, khususnya dalam memastikan pemenuhan pasokan gas bagi pembangkit dan sektor industri di wilayah Jawa Bagian Barat dan Sumatera," jelas Nofrizal melalui keterangan tertulis, Senin (19/1).
FSRU Lampung sendiri adalah unit terapung milik PLI anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Kapasitasnya tak main-main: bisa menampung 170.000 m³ LNG dan mampu melakukan regasifikasi hingga 240 juta kaki kubik per harinya. Fasilitas ini jadi penopang penting untuk pasokan energi di wilayah tersebut.
Di sisi lain, jaminan pasokan untuk paruh pertama tahun ini juga datang dari pihak regulator. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut total alokasi LNG untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor mencapai 120 kargo untuk periode Januari-Juni 2026.
"LNG Januari-Juni udah aman. Jumlahnya kalau untuk sampai dengan Juni sekitar 120 kargo," ungkap Djoko saat ditemui di Blok Rokan, dikutip pada Rabu (24/12).
Menurutnya, pasokan yang cukup ini juga sekaligus jadi buffer. Fungsinya untuk mengantisipasi segala kemungkinan gangguan pada jaringan pipa gas entah itu karena suplai dari hulu yang menurun atau masalah infrastruktur yang mendadak muncul.
Gangguan semacam itu bukan hal baru. Di penghujung 2025 lalu, bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera Utara sempat merusak infrastruktur pipa migas. Kerusakan itu, kata Djoko, berdampak pada penurunan lifting, terutama untuk minyak bumi. Kejadian itu jadi pengingat betapa pentingnya memiliki cadangan dan alternatif pasokan yang andal.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Lanjutkan Koreksi, Analis Soroti Empat Saham Potensial
Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025