Pertumbuhan ekonomi China mungkin tercatat 5 persen di tahun 2025, tapi di balik angka yang tampak solid itu, ada tantangan besar yang mengintai. Soal demografi. Baru-baru ini, data resmi mengungkap fakta pahit: angka kelahiran di Negeri Tirai Bambu itu terjun bebas ke titik terendah sejak 1949.
Kondisi ini jelas menggambarkan betapa beratnya perjuangan Beijing. Padahal, berbagai subsidi baru sudah diluncurkan untuk mendorong pasangan punya lebih banyak anak. Tampaknya, upaya itu belum cukup.
Menurut rilis Biro Statistik Nasional pada Senin (19/1), angka kelahiran per 1.000 penduduk merosot jadi hanya 5,6. Ini adalah level terendah sejak Republik Rakyat Tiongkok berdiri. Lebih detailnya, jumlah bayi baru lahir menyusut 1,6 juta penurunan terbesar yang terjadi dalam lima tahun terakhir.
Ini tentu jadi kemunduran untuk kampanye Presiden Xi Jinping yang ingin membangun masyarakat ramah kelahiran, salah satunya dengan iming-iming insentif tunai. Nyatanya, total populasi justru menyusut 3,4 juta jiwa menjadi 1,405 miliar. Penurunan sebesar itu belum pernah terjadi sejak masa Kelaparan Besar tahun 1960-an di era Mao Zedong.
Dampaknya jelas. Angkatan kerja bakal menyusut, sementara populasi menua dengan cepat. Ancaman serius untuk ekonomi terbesar kedua dunia. Bayangkan saja, rasio pekerja yang menopang para pensiunan akan semakin tidak seimbang, membebani sistem pensiun yang dananya sudah seret.
Menyadari hambatan struktural ini, pemerintah China sebenarnya sudah menggelontorkan serangkaian kebijakan pro-kelahiran. Dari perpanjangan cuti orang tua sampai mempermudah urusan administrasi pernikahan.
Artikel Terkait
Prabowo Terbang ke Eropa, Akan Temui PM Inggris hingga Raja Charles
FSRU Lampung Mulai Sibuk, Serap 30 Kargo LNG Sepanjang 2026
Direksi MKNT Mundur di Tengah Suspensi Saham dan Empat Notasi Khusus BEI
Prajogo Pangestu Gelontorkan Rp9,6 Miliar untuk Tambah Porsi di BREN