Posisinya di jajaran direksi sendiri sudah diemban sejak tahun 2018. Jadi, kurang lebih sudah delapan tahun ia berkontribusi untuk perusahaan.
Di sisi lain, kondisi MKNT sendiri sedang tidak baik-baik saja. Sahamnya masih tersangkut suspensi sejak Juli 2024 lalu, terkait persoalan going concern yang belum tuntas. BEI pun memberi empat notasi khusus pada perusahaan: E untuk ekuitas negatif, L karena telat lapor keuangan, Y akibat belum gelar RUPS Tahunan, dan X yang menandakan sahamnya masuk papan pemantauan khusus. Situasi yang cukup pelik.
Sebagai catatan, MKNT bergerak di bidang distribusi, terutama voucher prabayar dan kartu perdana. Mereka punya kerja sama erat dengan Telkomsel, bahkan mengelola layanan GraPari. Perusahaan ini berdiri pada 2008 dan kemudian melantai di BEI tujuh tahun kemudian, tepatnya 26 Oktober 2015. Harga IPO-nya kala itu Rp200 per saham.
Saat ini, mayoritas sahamnya sekitar 66,10 persen masih dipegang publik. Kapitalisasi pasarnya tercatat sekitar Rp5,5 miliar, angka yang jauh dari masa kejayaannya dulu.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
BUMI Pertahankan Produksi Batu Bara 73-75 Juta Ton pada 2025
MNC Tourism Pacu Pengembangan KEK Lido City Seluas 3.000 Hektare