Pergerakan IHSG pekan ini, 19 hingga 23 Januari 2026, kemungkinan besar bakal melambat. Setelah sebelumnya melesat 1,55 persen ke level 9.075, indeks kini seperti menahan napas. Semua mata tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan datang. Menurut Imam Gunadi, analis dari Indo Premier Sekuritas (IPOT), indeks akan bergerak dalam rentang yang terbatas. Dinamika pasar global dan domestik jadi faktor penentu.
"Memasuki pekan 19–23 Januari 2026, fokus pasar akan beralih pada serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan global dan domestik," jelas Imam dalam risetnya, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, "Sehingga dalam sepekan kedepan IHSG diprediksi cenderung ke fase konsolidasi dengan rentang support di 9.000 dan resistance di 9.200."
Nah, soal BI Rate, pasar punya tebakan sendiri. Mayoritas berpendapat BI akan mempertahankan suku bunga di 4,75 persen. Tujuannya jelas: menjaga rupiah tetap stabil. Apalagi di tengah situasi global yang belum pasti, terutama terkait kebijakan tarif dagang dari AS.
Namun begitu, ada angin segar yang patut dicatat. Aliran modal asing ternyata masih deras masuk ke pasar kita. Data terbaru menunjukkan, dalam sepekan investor asing mencatatkan net buy hingga Rp3,2 triliun. Angka yang cukup signifikan, bukan? Ini mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang masih kokoh. Buktinya, penjualan ritel November 2025 tumbuh 6,3 persen, rekor tercepat sejak Maret 2024.
Di panggung global, ada dua data kunci yang bakal disorot. Pertama, pertumbuhan ekonomi China kuartal IV 2025. Kedua, data inflasi inti AS atau Core PCE. Dua data ini akan jadi bahan pertimbangan utama bagi bank sentral dunia, termasuk The Fed.
Artikel Terkait
Bayi Langka, Ekonomi China Terancam: Angka Kelahiran Terjun ke Titik Terendah Sejarah
Direksi MKNT Mundur di Tengah Suspensi Saham dan Empat Notasi Khusus BEI
Prajogo Pangestu Gelontorkan Rp9,6 Miliar untuk Tambah Porsi di BREN
China Tembus Target 5 Persen di 2025, Tapi Konsumsi dan Investasi Terseok