Meski begitu, jika keputusan itu sudah bulat, Herry punya pesan. Perusahaan negara ini harus fokus pada pemenuhan rantai pasok, cukup jadi produsen bahan baku. Jangan sekali-kali masuk ke produk akhir.
"BUMN yang baru jangan jadi pesaing industri tekstil yang sudah ada," ujarnya. "Yang saat ini justru sedang kesulitan karena berhadapan dengan produk impor maupun pakaian bekas."
Sebelumnya, rencana ini memang sudah digaungkan dari level tertinggi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Presiden ingin menghidupkan kembali BUMN tekstil. Danantara, induk usaha BUMN, dikabarkan menyiapkan pendanaan fantastis: USD 6 miliar atau setara Rp 101,2 triliun.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali," kata Airlangga di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Rabu (14/1).
Soal pendanaan besar itu, CEO Danantara Rosan Roeslani memberi penjelasan. Setiap investasi pasti melalui kajian kelayakan yang ketat. Namun, parameter yang dipakai tidak melulu soal profit.
"Kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi," jelas Rosan pada Kamis (15/1).
Ia menambahkan, "Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi pencapaian kita lapangan pekerjaan itu sangat besar."
Niat pemerintah mungkin baik, ingin membangkitkan sektor yang punya sejarah panjang. Tapi di lapangan, industri tekstil masih terengah-engah. Mereka butuh napas, bukan pesaing baru apalagi yang dibiayai negara.
Artikel Terkait
Stok Beras Aceh Melimpah, BULOG Pastikan Ramadan dan Lebaran Aman
68 Desa di Aceh Masih Gelap, Tim PLN Terobos Medan Terisolir Pascabencana
Libur Panjang Januari Tak Berdampak Signifikan pada Hunian Hotel
Purbaya Tegaskan Dana Transfer ke Daerah untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Tak Dipotong