FLPP Cetak Rekor, Gen Z dan Milenial Borong Rumah Subsidi

- Kamis, 15 Januari 2026 | 15:48 WIB
FLPP Cetak Rekor, Gen Z dan Milenial Borong Rumah Subsidi

Tahun 2025 mencatatkan sejarah baru untuk program rumah subsidi. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) melaporkan penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai angka tertinggi sejak program ini berjalan.

“Kami melaporkan bahwa pada tahun 2025 kami mencatatkan capaian tertinggi sepanjang sejarah FLPP, dengan angka realisasi sebesar 278.868,” ujar Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kementerian PKP, Jakarta, Kamis lalu. Angka tersebut setara dengan 80 persen dari target awal tahun yang dicanangkan, yaitu 350.000 unit. Nilai pembiayaannya pun tak main-main, menyentuh sekitar Rp 34,64 triliun.

Yang menarik, mayoritas penerimanya adalah anak muda. Generasi Z dan milenial rupanya mendominasi. Kelompok usia 19-30 tahun menyumbang porsi terbesar, yakni 62,03 persen atau setara dengan 172.991 orang. Mereka diikuti kelompok 31-40 tahun (74.538 orang) dan di atas 41 tahun (31.339 orang).

Heru melihat ini sebagai perubahan pola pikir yang signifikan. Selama ini ada anggapan bahwa generasi muda lebih suka menyewa dan enggan berkomitmen punya rumah. Ternyata, data berkata lain.

“Saya kira inilah yang harus kita dorong ke depan. Anggapan bahwa Gen Z dan milenial malas bergerak dan lebih memilih menyewa ternyata tidak terbukti. Sebanyak 62 persen penerima akses FLPP adalah milenial dan Gen Z,” katanya.

Dari total unit yang disalurkan, hampir semuanya adalah rumah tapak (278.865 unit). Hanya tiga unit yang berupa rumah susun.

Pekerja Swasta Paling Banyak

Kalau dilihat dari latar belakang pekerjaan, profil penerima FLPP cukup beragam. Namun, pekerja swasta masih menduduki puncak dengan jumlah 205.330 orang atau 73,63 persen. Posisi berikutnya diisi oleh wiraswasta (39.218 orang) dan PNS (20.826 orang).

Nah, kalau dirinci lagi per profesi, buruh menjadi kelompok terbesar dengan 44.077 unit. Nilai pembiayaan untuk kelompok ini mencapai Rp 5,44 triliun. Di belakangnya, ada beragam profesi seperti guru, perawat, petani, hingga wartawan dan pengemudi ojek online.

Penyaluran program ini didukung oleh 42 bank. BTN masih menjadi penyalur utama dengan kontribusi hampir 48 persen dari total realisasi. Beberapa bank lain yang juga berperan besar antara lain BRI, BNI, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Indonesia.

Secara geografis, Jawa Barat masih unggul dengan realisasi 62.591 unit. Disusul oleh Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Daerah di luar Jawa seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga menunjukkan angka yang cukup menggembirakan.

Lantas, bagaimana prospek ke depannya? Untuk tahun 2026, target minimalnya sama: 350.000 unit. Heru pun mengajak semua pihak untuk bersinergi mencapainya.

“Pada tahun 2026, minimal kami diberi target untuk mencapai 350.000 unit [FLPP]. Maka kepada seluruh rekan-rekan asosiasi, mari terus semangat untuk berkompetisi dan memberikan yang terbaik,” pungkasnya.

Tingginya antusiasme generasi muda ini, baginya, adalah sinyal positif. Ini bisa jadi modal besar untuk mengembangkan pasar perumahan subsidi di masa datang. Harapannya, program ini tak hanya tentang angka, tapi juga tentang membangun fondasi kehidupan yang lebih baik untuk lebih banyak keluarga.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar