Kalau bicara soal saham yang lagi panas, ESTI pasti masuk daftar. Saham PT Ever Shine Tex Tbk ini tiba-tiba melonjak hingga auto reject, tepatnya di perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Harganya mentok di Rp190 per lembar naik fantastis 34,75% dalam sehari. Pemicunya? Kabar rencana pemerintah yang ingin menghidupkan kembali BUMN di sektor tekstil. Sentimen itu langsung disambut pasar dengan euforia.
Lantas, siapa sebenarnya di balik perusahaan ini? ESTI bergerak di industri tekstil dan tercatat sebagai emiten barang konsumen non-primer. Usianya sudah setengah abad lebih, didirikan sejak 1974. Awalnya, mereka cuma fokus pada pewarnaan kelambu nyamuk. Baru dua tahun kemudian, bisnisnya merambah ke kain tenun.
Perjalanan bisnis ESTI terbilang konsisten. Di tahun 1990, mereka membuka divisi garmen. Ekspansi terus berlanjut, termasuk dengan membentuk divisi produksi benang nylon. Intinya, produk utama mereka mencakup benang, anyaman, dan rajutan. Semua produksi ini ditangani oleh anak usahanya, PT Prima Rajuli Sukses.
Soal kapasitas, angkanya cukup besar. Mereka bisa memproduksi 21.000 ton filamen nylon 6 per tahun, termasuk benang bertekstur dan benang mikro filamen. Benang-benang ini biasa dipakai untuk berbagai keperluan, mulai dari tenun sempit, bordir, sampai bahan kaus kaki.
Belum cukup di situ. ESTI juga punya kapasitas produksi kain tenun sintetis hingga 36 juta yard per tahun, plus 1.800 ton kain rajut lusi. Jaringan pemasarannya pun global, menjangkau benua dari Asia sampai Amerika. Beberapa negara tujuannya antara lain Malaysia, Vietnam, Jepang, Amerika Serikat, hingga Brazil.
Yang menarik, produk mereka dipakai oleh sejumlah brand ternama. Sebut saja Uniqlo, Eiger, Erigo, bahkan brand aplikasi seperti Grab dan GoJek. Jadi, meski namanya mungkin kurang familiar di telinga publik, produknya justru ada di sekitar kita.
Nah, pertanyaan besarnya: saham ESTI ini sebenarnya milik siapa?
Berdasarkan data kepemilikan per 31 Desember 2025, pemegang saham pengendali adalah PT Cahaya Interkontinental. Mereka menguasai 1,83 miliar saham atau setara 91,21% dari total saham beredar. Sisa sekitar 8,49% atau 171 juta saham, dipegang oleh publik.
Adapun penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham ini adalah Sung Pui Man.
ESTI sebenarnya sudah lama go public. Mereka melakukan penawaran perdana di Bursa Efek Indonesia pada 1992, melepas 4 juta saham dengan harga Rp5.400 per saham. Hasilnya? Dana segar Rp21,60 miliar berhasil dihimpun.
Kembali ke kinerja saham, lonjakan Kamis itu bukan satu-satunya pencapaian. Dalam sebulan terakhir, saham ESTI telah naik lebih dari 71%. Sebuah performa yang luar biasa, sekaligus memantik pertanyaan: apakah momentum ini akan berlanjut, atau justru sudah mencapai puncaknya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Begitulah profil singkat ESTI, dari bisnis tekstilnya yang sudah berusia lima dekade hingga kepemilikan sahamnya yang terkonsentrasi. Sahamnya mungkin sedang jadi buah bibir, tetapi fondasi perusahaannya ternyata sudah dibangun sejak puluhan tahun silam.
Artikel Terkait
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026
Pemegang Saham Setujui Stock Split 1:2 Saham ITSEC Asia
ITSEC Asia Dapat Restu Pemegang Saham untuk Stock Split 1:2