PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) memutuskan untuk melanjutkan program pembelian kembali sahamnya. Kali ini, mereka memberi waktu tambahan tiga bulan. Tidak main-main, dana yang disiapkan perusahaan mencapai Rp50 miliar untuk aksi korporasi ini.
Sebenarnya, rencana buyback ini sudah berjalan sejak Oktober tahun lalu. Itu adalah respons atas surat OJK di September 2025, yang menyoroti kondisi pasar yang lagi naik-turun banget. Periode sebelumnya sudah habis, dan sekarang mereka memilih untuk memperpanjangnya.
Latar belakangnya cukup jelas. Menurut data, IHSG sempat melemah 2,26 persen dalam rentang 25 Agustus sampai 11 September. Asing juga ramai-ramai jual, dengan net sell mencapai Rp9,25 triliun di periode yang sama. Situasi pasar kayak gini yang bikin manajemen bergerak.
Wakil Direktur Utama Jaya Property, Yohannes Henky Wijaya, menjelaskan keputusannya.
"Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka perseroan dengan ini berencana melakukan pembelian kembali saham," ujarnya dalam keterbukaan informasi, Rabu (14/1/2026).
Dengan dana Rp50 miliar tadi, JRPT menargetkan bisa membeli sekitar 47,6 juta lembar saham. Meski harga maksimalnya nggak disebutin secara gamblang, kalau dilihat dari anggaran dan target jumlah saham, kira-kira harganya nggak akan lewat dari Rp1.050 per lembar.
Sebelumnya, di fase buyback Oktober 2025, perusahaan ini lebih agresif dengan menyiapkan dana Rp100 miliar. Hasilnya? Sampai 12 Januari 2026, mereka sudah membeli 22,4 juta saham JRPT. Rata-rata harganya Rp958, sehingga total dananya keluar sekitar Rp58,9 miliar. Masih ada sisa dana yang cukup banyak, ya.
Yang menarik, Yohannes memastikan langkah ini nggak akan bikin kondisi keuangan perusahaan goyah. Likuiditas aman, katanya. Malah, laba bersih per saham diproyeksikan naik sedikit, dari Rp70,07 menjadi Rp70,61, karena jumlah saham yang beredar bakal berkurang.
Di pasar, responsnya positif. Di penutupan perdagangan hari ini, saham JRPT menguat 1,4 persen ke level Rp1.065. Kalau dilihat perjalanannya sepanjang 2025, kinerja saham emiten properti asal Bintaro ini cukup gemilang, dengan penguatan hampir menyentuh 40 persen. Buyback ini kayaknya jadi sinyal kepercayaan diri manajemen, sekaligus upaya untuk menopang harga di tengah ketidakpastian.
Artikel Terkait
Pembukaan Kembali Selat Hormuz Picu Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok
Astra Graphia Bagikan Dividen Final Rp284,59 Miliar, Melebihi Laba Bersih 2025
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026