Riyal Iran Terjun Bebas, Warga Berhadapan dengan Harga Pangan yang Meledak

- Rabu, 14 Januari 2026 | 19:36 WIB
Riyal Iran Terjun Bebas, Warga Berhadapan dengan Harga Pangan yang Meledak

Gelombang demonstrasi di Iran masih terus berlanjut. Pemicunya? Anjloknya nilai tukar riyal Iran ke titik terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini langsung memukul keras kehidupan warga, dengan harga kebutuhan pokok yang melambung dan krisis ekonomi yang kian parah.

Menurut laporan Bloomberg pada Rabu (14/1), riyal terdepresiasi sekitar 40 persen. Dampaknya sungguh nyata: inflasi pangan tahunan meroket hingga 70 persen. Dengan catatan kelam ini, riyal Iran kini bisa dibilang sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia.

Lalu, berapa sebenarnya nilai riyal Iran jika dibandingkan dengan Rupiah? Angkanya cukup mencengangkan. Berdasarkan kalkulator kurs Wise, Rp 1 setara dengan 2,49 riyal Iran. Namun, sumber lain seperti XE dan Google menunjukkan angka yang jauh berbeda sekitar 63 hingga 64 riyal Iran untuk setiap Rupiah. Perbedaan yang sangat lebar ini sendiri menggambarkan betapa rumit dan bergejolaknya situasi.

Jatuh Terus Sejak Awal Tahun

Kurs nasional Iran sebenarnya sudah terperosok jauh sejak awal 2024. Euro News memberitakan, nilainya turun sekitar 13 persen dari Januari ke Februari. Tren penurunan ini makin menjadi-jadi pasca konflik Israel-Hamas meletus pada Oktober tahun lalu.

Di sisi lain, pemerintah Iran tampaknya punya pendekatan sendiri. Mereka memilih untuk tidak mengakui nilai tukar yang berlaku di pasar global. Lewat Kementerian Urusan Ekonomi dan Keuangan, pemerintah dengan tegas menyatakan sikapnya.

Yang mereka akui hanyalah nilai tukar yang diatur oleh Iran Center for Exchange. Menurut pemerintah, strategi ini penting untuk menjaga stabilitas riyal di kancah internasional. Klaimnya sih berhasil, tapi realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar