Riyal Iran Terjun Bebas, Warga Berhadapan dengan Harga Pangan yang Meledak

- Rabu, 14 Januari 2026 | 19:36 WIB
Riyal Iran Terjun Bebas, Warga Berhadapan dengan Harga Pangan yang Meledak

Akibatnya, mata uang asing dengan kurs resmi yang lebih rendah jadi barang langka. Banyak warga akhirnya nekat beralih ke pasar gelap untuk mendapatkan dolar AS sebuah langkah berisiko mengingat pemerintah gencar menindak transaksi yang dianggap tidak sah, termasuk yang dilakukan secara virtual.

Ruang gerak semakin sempit. Kantor-kantor pertukaran uang di Teheran, misalnya, dilarang membagikan informasi kurs kepada publik atau menjual valuta asing. Iran Wire juga melaporkan adanya pembatasan transfer riyal dari rekening bank domestik yang dirasakan warga.

Belum cukup sampai di situ, pemerintah melalui Bank Sentral baru-baru ini menghapus total sistem NIMA pasar sekunder yang sebelumnya jadi jalur bagi eksportir dan importir. Sistem ini dulunya hadir karena pemerintah kesulitan menyediakan mata uang asing.

Dampaknya langsung terasa. Kini, eksportir dipaksa menjual devisa mereka ke Bank Sentral dengan kurs yang lebih rendah ketimbang pasar terbuka. Importir dan eksportir pun harus bernegosiasi sendiri soal nilai tukar, menghapus kemudahan yang sebelumnya ada untuk mendapatkan dolar dengan harga lebih murah.

Abdolnasser Hemmati, Gubernur Bank Sentral yang juga mantan Menteri Ekonomi, membela kebijakan ini. Katanya, langkah ini diambil untuk menjamin keamanan ekonomi negara.

Namun begitu, para kritikus punya pandangan berbeda. Mereka melihat lonjakan nilai dolar di pasar terbuka, diikuti penghapusan sistem NIMA dan anggaran pemerintah yang ekspansif untuk 2025, sebagai resep yang sempurna untuk inflasi tinggi di tahun-tahun mendatang. Situasinya memang suram, dan jalan keluarnya masih samar.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar