Rindu yang Tak Terucap: Pesan Terakhir Gary Iskak Lewat Mimpi untuk Keluarga

- Senin, 05 Januari 2026 | 16:30 WIB
Rindu yang Tak Terucap: Pesan Terakhir Gary Iskak Lewat Mimpi untuk Keluarga

Sudah sebulan sejak dunia hiburan Indonesia kehilangan Gary Iskak. Kecelakaan tunggal yang merenggut nyawanya di akhir November tahun lalu, masih terasa seperti luka yang segar bagi keluarganya. Bagi sang istri, Richa Novisha, dan kedua anak mereka, Adilla dan Taqya, hidup tanpa sosok itu jelas bukan perkara mudah.

Mereka memang berusaha kuat, mencoba melangkah dengan lebih legawa. Tapi rasa rindu? Itu soal lain. Dalam sebuah penampilan di acara FYP Trans7 awal Januari ini, Richa tak bisa menyembunyikannya.

“Ikhlas Insha Allah, iya,” ujarnya, menjawab pertanyaan tentang keikhlasan. Suaranya tercekat sejenak sebelum ia menambahkan, “tetap rindu.”

Air matanya jatuh, mengungkapkan apa yang tak bisa sepenuhnya diucapkan kata-kata.

Rindu yang sama ternyata juga menggerogoti hati sang anak lelaki, Muhammad Adilla Rafisya. Meski dengan jujur ia mengakui hubungannya dengan ayahnya dulu tak selalu dekat. “Enggak sebenarnya. Jarang dekat dan berkomunikasi, aku sering ninggalin ayah,” tutur Adilla dengan polos. Ada nada penyesalan yang samar di balik pengakuannya itu.

Ada satu rencana yang kini terasa sangat berat, karena tak akan pernah terwujud.

“(Rencana sama ayah) mau ke Thailand bareng rencananya,” katanya, berusaha menahan tangis.

Di balik sikapnya yang terlihat cuek, ternyata ada segudang kenangan manis yang ia simpan. Saat ditanya momen apa yang paling diingat, Adilla menyebut saat liburan ke Bali. “Pas ke Bali, jalan di pantai dan nonton di bioskop, kita ngobrol,” kenangnya. Suasana santai itu, percakapan ringan itu, kini jadi harta karun yang tak ternilai.

Namun begitu, kepergian Gary rupanya tidak serta-merta memutuskan ikatan batin. Justru, dalam keheningan malam, sang almarhum seolah menemukan cara lain untuk ‘mampir’. Menurut pengakuan keluarga, Gary beberapa kali hadir lewat mimpi.

Adilla mengaku sudah tiga kali bermimpi bertemu ayahnya. Yang menarik, pesan yang dibawa selalu sama. “Pernah mimpi 3 kali, (pesan) jagain bunda dan adik, sambil peluk,” cerita Adilla.

Ia menggambarkan sosok ayahnya dalam mimpi itu dengan jelas. “Mukanya bersih, sehat, gak sakit lagi, muda lagi, ngomong jelas,” ujarnya. Sang ayah selalu menanyakan kabar dan mengulang pesan untuk menjaga ibu dan adiknya. Mimpi yang berulang itu terasa begitu nyata, seolah sebuah amanat terakhir yang disampaikan dari seberang.

Si bungsu, Taqya Zahra Mikaela, juga punya pengalaman serupa. Ia bukan cuma bermimpi. “Mimpi bunda kan lagi beres-beres di kamar, ayah berdiri aja, terus aku dipeluk,” katanya. Tapi ada satu kejadian lain yang ia alami saat sadar, yang membuatnya campur aduk antara takut dan bahagia.

“Terus lihat lewat pas mau mandi, kayak gak jelas gitu bajunya. Aku merasa dua-duanya, takut dan bahagia,” ungkap Taqya dengan polosnya.

Richa, sang istri, pun merasakan ‘tanda-tanda’ kehadiran yang sama. Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku mencium aroma parfum khas Gary di rumah mereka. Sebuah kehadiran yang tak kasat mata, tapi terasa sangat kuat di ruang hati mereka yang sedang berduka.

Kisah keluarga Gary Iskak ini mungkin mengingatkan kita pada satu hal: bahwa cinta dan ikatan keluarga tak selalu terputus oleh maut. Kadang, ia hanya berubah bentuk. Menjadi mimpi, menjadi aroma yang familiar, atau sekadar rasa rindu yang tiba-tiba menghunjam di tengah sunyi. Itu semua adalah bagian dari proses panjang untuk belajar melepas, sambil tetap memeluk erat kenangan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar