Meski begitu, jangan bayangkan toko ini tertinggal jauh. Dede sendiri mengakui belum membuka toko online. Tapi, menariknya, kopinya justru banyak diborong reseller yang kemudian menjualnya secara daring. Jadi, meski tokonya fisik, jangkauannya sudah meluas lewat tangan-tangan kreatif para reseller itu.
Selain mengandalkan penjualan di lokasi, Bis Kota juga rutin mengirim stok ke sejumlah kafe di Jakarta dan sekitarnya. "Kebanyakan ya di Jakarta, ada juga yang ke Bekasi atau Tangerang. Paling jauh itu," kata Dede. Permintaan dari luar daerah pun kadang datang, meski tidak setiap hari.
Lalu, bagaimana dengan omzet? Dede enggan merinci angka pastinya. Namun, ia mengakui ada penurunan yang cukup signifikan. Menurutnya, gempuran kopi kemasan saset jadi salah satu penyebab utama. "Omzet jauh turun dibanding dulu, sejak ada kopi saset," jelasnya. Situasi pandemi COVID-19 juga disebutnya memberi pengaruh yang besar.
Di sisi lain, tantangan lain justru datang ketika tren ngopi sedang naik daun. Semakin banyak orang minum kopi, semakin banyak pula kedai dan toko baru bermunculan. Persaingan pun jadi semakin ketat. Namun begitu, bagi Dede dan Bis Kota, bertahan dengan cara mereka sendiri adalah kunci. Toko tua itu tetap berdiri, menghirup aroma sejarah, sambil terus menyeduh kenangan untuk siapa saja yang mau mampir.
Artikel Terkait
Tjokro Group Lepas Rp158,57 Miliar untuk Kendali Penuh GPSO
Mentan Ajukan Anggaran Rp5,1 Triliun untuk Bangkitkan Pertanian Pasca Banjir Bandang Sumatera
Ormat Geothermal Kantongi Wilayah Kerja Panas Bumi Telaga Ranu
IHSG Sentuh Rekor Baru, Saham-saham Siklikal Pimpin Pesta di Bursa