KAI Commiter Amankan Pelaku Dugaan Pelecehan Seksual di KRL Berkat CCTV Canggih

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:15 WIB
KAI Commiter Amankan Pelaku Dugaan Pelecehan Seksual di KRL Berkat CCTV Canggih

Seorang pria yang diduga melakukan pelecehan seksual di dalam KRL akhirnya diamankan. Tindakan tegas dari KAI Commuter Indonesia (KCI) ini berawal dari laporan seorang korban dan kecanggihan sistem kamera di stasiun.

Kasusnya sendiri terjadi pada 22 Januari lalu, di kereta rel listrik rute Jakarta Kota menuju Bogor. Awalnya, video yang memperlihatkan korban melaporkan kejadian tersebut kepada petugas stasiun ramai beredar di media sosial. Dari situlah, laporan itu mulai ditindaklanjuti.

KCI pun bergerak cepat. Mereka mengumpulkan keterangan dari korban, termasuk ciri-ciri pelaku. Informasi itu kemudian dimasukkan ke dalam sistem CCTV yang mereka miliki. Menurut sejumlah saksi, teknologi ini memang dirancang untuk mengenali wajah dan pola tertentu.

Notifikasi dari Sistem, Pelaku Diringkus

Nah, ujian sistem itu terjadi pada Jumat (27/2) kemarin. Saat si terduga pelaku memasuki area stasiun, sistem keamanan langsung memberikan notifikasi. Alarm virtual itu segera ditanggapi oleh petugas di lapangan.

Pelaku pun berhasil diamankan. Tanpa banyak delay, pemeriksaan awal segera dilakukan.

Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, menjelaskan kronologi penangkapan saat dikonfirmasi pada Sabtu (28/2/2026).

"Petugas terkait langsung melakukan koordinasi di lapangan untuk segera mengamankan pelaku tersebut dan membawanya ke Stasiun Bojonggede untuk dilakukan pemeriksaan awal," ujar Leza.

Jadi, begitulah ceritanya. Dari sebuah laporan yang viral, diikuti tindak lanjut investigasi, hingga akhirnya teknologi mempermudah proses identifikasi dan penangkapan. Kasus ini sekaligus jadi peringatan, bahwa ruang publik seperti KRL bukanlah zona bebas untuk tindakan asusila.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar