Sebuah program baru digulirkan untuk membantu pelaku usaha kecil di Jakarta Barat. Namanya UMKM Level-Up: From Local Heroes to Retail-Ready Brands. Intinya, program ini ingin membekali para pelaku UMKM binaan JakPreneur supaya produk mereka siap masuk ke rak-rak ritel modern.
Inisiatif ini datang dari Tokio Marine Life Insurance Indonesia, yang menggandeng sejumlah mitra strategis. Ada LAZISMU, PPKUKM DKI Jakarta, dan Politeknik Tempo. Tak ketinggalan, peritel besar seperti AEON Indonesia, Lotte Mart Indonesia, dan The Food Hall Indonesia juga turut serta. Kolaborasi lintas sektor ini memang sengaja dirancang untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.
Bicara soal keberlanjutan, program ini sebenarnya adalah bagian dari Sustainability Journey yang diusung Tokio Marine Life. Fokusnya ada pada beberapa pilar, termasuk pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Nah, kerja sama di bidang pendidikan sudah lebih dulu berjalan. Tahun lalu, melalui LAZISMU, mereka menyalurkan Beasiswa Sang Surya tahap pertama untuk mahasiswa Politeknik Tempo. Rencananya, tahap kedua akan disalurkan lagi tahun ini.
“Melalui Sustainability Journey, kami tidak hanya fokus pada satu pilar, tetapi membangun keterhubungan antara pendidikan dan pemberdayaan ekonomi,” jelas Alexander Mahendrawan, SVP Marketing & Corporate Planning Tokio Marine Life Insurance Indonesia.
Ia menambahkan, “Setelah penyaluran beasiswa Politeknik Tempo pada tahap pertama, UMKM Level-Up menjadi langkah lanjutan untuk mendukung pelaku usaha agar lebih siap, tangguh, dan berkelanjutan.”
Lantas, seperti apa bentuk programnya? Para peserta UMKM tidak hanya dapat teori. Mereka mengikuti serangkaian kegiatan yang padat, mulai dari talkshow, Financial Level-Up Masterclass, workshop persiapan kurasi, hingga yang paling menegangkan: sesi kurasi langsung oleh perwakilan ritel modern. Inilah momen dimana produk mereka dinilai, dan pintu akses ke pasar yang lebih luas bisa terbuka.
Pemilihan Jakarta Barat sebagai lokasi fokus bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai punya ekosistem pembinaan UMKM yang sudah mapan, berkat kolaborasi berkelanjutan antara Politeknik Tempo, PPKUKM DKI Jakarta, dan JakPreneur. Mereka rutin mengadakan pelatihan, jadi fondasinya sudah kuat.
Dari 80 usulan UMKM yang diajukan dari delapan kecamatan, terpilihlah 53 pelaku usaha yang dianggap paling konsisten dan siap naik kelas. Mereka inilah yang kemudian menjalani seluruh rangkaian program.
Dukungan dari pemerintah setempat juga mengalir. Iin Mutmainnah, Wali Kota Jakarta Barat, dan Elisabeth Ratu Rante Allo, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, menyambut baik kolaborasi ini. Mereka melihatnya sebagai peluang konkret bagi UMKM untuk berkembang.
Dalam sesi talkshow, pembicaraan berpusat pada kesiapan masuk ritel. Iqbal Idham Ramid, Kepala Sudin PPKUKM Jakarta Barat, duduk bersama perwakilan ritel dan pelaku UMKM. Mereka mengupas tuntas soal standar produk dan tantangan saat usaha ingin berkembang lebih besar.
Dari sisi peritel, ada tekanan tersendiri. Auliyarrrohman Nuril Afwan dari AEON Indonesia menekankan betapa krusialnya konsistensi kualitas dan kesiapan produksi.
Sementara Mety Sumiati dari Lotte Mart Indonesia punya pandangan lain. Baginya, pemahaman menyeluruh terhadap standar ritel adalah kunci agar kemitraan bisa langgeng.
Pengalaman langsung datang dari Jonathan Pranadjaja, founder GNB Drinks. Ia berbagi cerita tentang perjalanan bisnisnya hingga bisa menembus pasar yang lebih luas. Kisahnya memberi warna dan inspirasi tersendiri bagi peserta lain.
Aspek keuangan juga tak luput dari perhatian. Dalam Financial Level-Up Masterclass, Rahmi Utami dari Politeknik Tempo dan Novi Andrianto dari Tokio Marine Life mengajak peserta mengelola arus kas dan memahami risiko usaha.
“Banyak UMKM belum menyadari bahwa risiko seperti pemilik usaha sakit, produksi terhenti, atau gangguan operasional dapat berdampak besar,” ujar Novi.
Ia menambahkan, “Melalui sesi ini, kami ingin membantu UMKM memahami risiko tersebut dan menyiapkan langkah-langkah sederhana agar usaha tetap berjalan dan lebih tangguh.”
Menjelang sesi kurasi, suasana jadi lebih intens. Dosen Politeknik Tempo, Rosdiana dan Ayoedia Gita Citrayomie, bersama mahasiswa, mendampingi para peserta mempersiapkan presentasi dan produk mereka. Semuanya dimatangkan sebelum diuji langsung oleh para buyer ritel.
Sesi kurasi itu sendiri menjadi penentu. Inilah momen kebenaran dimana produk UMKM dinilai kelayakannya. Bukan sekadar formalitas, tapi langkah nyata menuju rak ritel.
Harapannya jelas. Program seperti UMKM Level-Up ini bisa terus mendorong usaha kecil Indonesia agar tak hanya bertahan, tapi benar-benar bersaing. Kolaborasi semacam ini, jika dijaga, bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif dan tentu saja, berkelanjutan.
Artikel Terkait
Adaro Siapkan Rp5 Triliun untuk Buyback Saham, Tunggu Persetujuan RUPS 2026
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui