PT SMR Utama Tbk (SMRU) menghadapi pukulan berat. Perusahaan ini baru saja kehilangan kontrak jasa penambangan batu bara yang menjadi tulang punggung bisnisnya. Mitra yang mengakhiri kerja sama itu adalah PT Manggala Usaha Manunggal (MUM), bagian dari Titan Group.
Corporate Secretary SMRU, Arief Novialdi, tak menampik dampak besar dari berakhirnya perjanjian ini. Menurutnya, hal itu akan sangat mempengaruhi kondisi keuangan perseroan.
"Mengingat perjanjian jasa penambangan batu bara tersebut adalah satu-satunya sumber pendapatan perseroan saat ini,"
ujarnya dalam keterbukaan informasi yang dirilis Senin (12/1/2025).
Sebenarnya, tekanan terhadap SMRU sudah terasa sebelumnya. Kinerja operasional mereka terhambat lantaran alat-alat berat milik anak usahanya, PT Ricobana Abadi (RBA), nganggur begitu saja. Ada sejumlah alat berat dengan kapasitas 60-100 ton yang mangkrak, tidak terpakai.
Ini bukan kali pertama RBA kehilangan kontrak. Sebelumnya, mereka juga harus melepas kontrak dari Berau Coal Energy untuk mengelola penambangan di Sembarata Mine Operation. Padahal, lokasi itu bisa memproduksi hingga 5 juta ton batu bara per tahun. Rugi besar.
Dengan situasi seperti ini, masa depan SMRU sepenuhnya bergantung pada kemampuan mereka mendapatkan kontrak baru. Tidak ada pilihan lain.
Di sisi lain, nasib saham SMRU di bursa juga suram. Sahamnya masih disuspensi BEI di harga Rp50 per lembar. Ancaman delisting pun membayangi, mengingat suspensi ini sudah berlangsung lebih dari enam bulan. Situasi yang benar-benar pelik.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Terombang-ambing oleh Hasil Pertemuan OPEC+ dan Data Konsumsi Bensin AS
Belanja Modal Telkom Kuartal I-2026 Turun Jadi Rp4,9 Triliun, Fokus pada Infrastruktur Inti
Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri, dan Pensiunan Cair Mulai 2 Juni 2026
Kinerja Operasional IPCC Tumbuh 16 Persen hingga Awal Kuartal II 2026, Didorong Kenaikan Arus Kendaraan Niaga