IHSG Terguncang, Saham Konglomerasi Ambruk dalam Hitungan Menit

- Senin, 12 Januari 2026 | 15:35 WIB
IHSG Terguncang, Saham Konglomerasi Ambruk dalam Hitungan Menit

Pasar saham kita diguncang sentakan tiba-tiba pada Senin siang (12/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles tajam, bahkan sempat menyentuh kejatuhan lebih dari 2 persen dalam hitungan menit. Pemicunya? Aksi jual besar-besaran yang menyasar saham-saham konglomerasi besar.

Menurut pantauan di papan perdagangan, situasi sempat sangat mencekam sekitar pukul setengah tiga sore. IHSG terperosok dalam hingga 2,48 persen ke level 8.715,41. Namun, yang menarik, indeks berhasil bangkit dengan cepat hanya dalam 3-5 menit setelahnya. Pada pukul 14.59 WIB, pelemahan sudah terpangkas jadi hanya 0,51 persen di posisi 8.891,01.

Tekanan jual paling keras datang dari saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu. BRPT anjlok 7,10 persen, disusul BREN, CDIA, dan PTRO yang juga terkapar dengan koreksi antara 4 hingga 6 persen lebih. Rupanya, tekanan ini menular ke grup konglomerat lain.

Saham-saham di bawah bendera Grup Bakrie, yang juga terkait dengan Grup Salim, ikut terhempas. BUMI melemah 4,33 persen, padahal sebelumnya sempat terjun bebas 12 persen. Nasib serupa dialami DEWA, yang sempat kolaps 13 persen sebelum akhirnya mengurangi kerugiannya.

Tak cuma itu, aksi jual panik ternyata menyapu saham milik Happy Hapsoro. RAJA merosot lebih dari 10 persen, sementara RATU, anak usahanya, juga terperosok sekitar 9 persen. Saham tambang Salim, AMMN, tak luput, sempat jatuh 8 persen. Bahkan saham properti PANI dari Agung Sedayu ikut terseret koreksi.

Kejatuhan mendadak ini terasa ironis. Pasalnya, baru beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 8 Januari, IHSG justru sedang bersorak merayakan rekor baru dengan sentuhan perdana di level 9.000 secara intraday. Kini, suasana berubah drastis.

Di sisi lain, pasar global juga sedang mencerna perkembangan yang tak kalah panas dari Amerika Serikat. Ketua The Fed, Jerome Powell, membuat pernyataan mengejutkan pada Minggu lalu. Ia mengungkap bahwa pemerintahan Donald Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana, bahkan sampai pada panggilan dewan juri. Ini terkait kesaksiannya di Kongres musim panas lalu soal proyek renovasi gedung bank sentral.

Powell sendiri menilai semua ancaman itu cuma dalih. Tujuannya jelas: untuk menekan The Fed agar memotong suku bunga.

Perkembangan terbaru ini jelas memperuncing konflik yang sudah berlangsung sejak Powell memimpin The Fed tahun 2018. Konflik antara bank sentral dan istana kepresidenan AS itu makin panas saja.

Sementara itu, dari kancah geopolitik, ancaman Trump untuk melakukan intervensi di Iran turut mempengaruhi pasar. Di tengah gelombang protes terhadap pemerintahan ulama di sana, ancaman itu justru menopang harga minyak untuk tetap berada di zona hijau. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat keras: risiko geopolitik akan menjadi bayang-bayang yang mengintai pasar sepanjang tahun mendatang.

Ingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar