Senin pagi (12/1) ini, rupiah kembali merangkak di zona merah. Mata uang nasional dibuka dengan pelemahan 0,17 persen, menyentuh level Rp16.847 per dolar AS. Padahal, penutupan pekan lalu masih di angka Rp16.819. Rasanya, tren negatif ini seperti tak ada habisnya.
Lantas, apa penyebabnya? Ternyata, sentimen dari dalam negeri sendiri yang jadi beban. Pasar masih mencerna dampak pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia. Belum lagi, ada kekhawatiran yang mengendap soal defisit APBN 2025. Kombinasi kedua hal itu cukup membebani psikologi pasar.
Menurut pantauan Bloomberg sekitar pukul 10.05 WIB, tekanan malah kian dalam. Pelemahan rupiah memburuk jadi 0,30 persen ke posisi Rp16.869 per dolar. Yang menarik, ini terjadi saat indeks dolar AS justru melemah 0,18 persen ke 98,95. Artinya, faktor eksternal yang biasanya mendukung pun tak cukup kuat mengangkat rupiah dari keterpurukan. Dengan begini, catatan suram rupiah sudah berlangsung tujuh hari berturut-turut.
Ironisnya, situasi di kawasan Asia justru berbeda. Mayoritas mata uang regional malah menunjukkan kekuatan. Baht Thailand jadi yang terdepan, melesat 0,28 persen. Dolar Singapura juga ikut naik 0,13 persen.
Tak ketinggalan, yen Jepang dan ringgit Malaysia sama-sama menguat 0,09 persen. Peso Filipina dan yuan China juga catat kenaikan, meski lebih tipis.
Di sisi lain, rupiah tak sepenuhnya sendirian. Won Korea Selatan turun 0,2 persen, menemani posisi rupiah di zona merah. Dolar Taiwan dan dolar Hong Kong juga tercatat melemah, walau sangat tipis. Tapi, sorotan utama tetap pada rupiah yang terus terperosok, sementara tetangga-tetangganya justru bergerak ke arah sebaliknya.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%