Faktor lain yang bikin pasar waspada adalah tensi geopolitik global yang masih panas. Mulai dari gelombang demonstrasi di Iran, perang Rusia-Ukraina yang belum berujung, sampai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Semua isu ini mempengaruhi sentimen pasar saham dan juga meningkatkan volatilitas harga minyak dunia," kata Hans lagi.
Untungnya, dari dalam negeri ada kabar baik. Perekonomian Indonesia di penghujung 2025 menunjukkan ketahanan yang solid. Aktivitas manufaktur masih ekspansif, inflasi terjaga, dan neraca perdagangan surplus terus berlanjut. Fondasi ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan yang lebih kuat di 2026, sekaligus jadi pendorong positif untuk bursa.
Untuk pekan depan, mata pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah data kunci dari AS, terutama inflasi level konsumen dan produsen, serta laporan penjualan ritel. Data-data itu nantinya yang akan memberi arah baru.
Artikel Terkait
Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Capai 300.000 Kasus pada 2024
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran