Pasar saham kita diprediksi bakal buka dengan catatan hijau di awal pekan. Sentimen positif, terutama dari data ekonomi domestik dan AS, jadi angin segar buat IHSG.
Hans Kwee, pengamat pasar modal dan Co-Founder Pasardana, memproyeksikan IHSG hari Senin (12/1/2026) akan konsolidasi menguat. Menurutnya, level support ada di kisaran 8.900-8,732, sementara resistance di 9.002-9,050.
"Tampaknya investor mulai rasional dan memilih saham yang sudah dapat monetisasi potensinya," ujar Hans kepada IDX Channel, Minggu kemarin.
Gerak IHSG kali ini banyak diwarnai dinamika dari Wall Street. Di sana, rotasi sektor sedang terjadi. Investor terlihat berpindah ke saham-saham pemenang di sektor AI dan meninggalkan yang performanya buruk. Tak cuma itu, saham bernilai atau value juga lebih diminati ketimbang saham growth, termasuk saham-saham kapitalisasi kecil.
Di sisi lain, data tenaga kerja AS yang dirilis akhir pekan lalu cukup kompleks. Angka nonfarm payrolls ternyata lebih rendah dari perkiraan, tapi tingkat penganggurannya justru turun. Kondisi campuran ini membuat pasar masih memprediksi potensi pemotongan suku bunga The Fed dua kali tahun ini, meski untuk rapat Januari ini kemungkinan besar suku bunga akan dipertahankan dulu.
Faktor lain yang bikin pasar waspada adalah tensi geopolitik global yang masih panas. Mulai dari gelombang demonstrasi di Iran, perang Rusia-Ukraina yang belum berujung, sampai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Semua isu ini mempengaruhi sentimen pasar saham dan juga meningkatkan volatilitas harga minyak dunia," kata Hans lagi.
Untungnya, dari dalam negeri ada kabar baik. Perekonomian Indonesia di penghujung 2025 menunjukkan ketahanan yang solid. Aktivitas manufaktur masih ekspansif, inflasi terjaga, dan neraca perdagangan surplus terus berlanjut. Fondasi ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan yang lebih kuat di 2026, sekaligus jadi pendorong positif untuk bursa.
Untuk pekan depan, mata pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah data kunci dari AS, terutama inflasi level konsumen dan produsen, serta laporan penjualan ritel. Data-data itu nantinya yang akan memberi arah baru.
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement