"Penetapan harga Rp100 bertujuan memberi insentif bagi pemegang saham agar ikut serta dalam aksi korporasi ini, sekaligus memastikan target pendanaan perusahaan tercapai," begitu kira-kira penjelasan mereka.
Dana yang terkumpul nantinya sebagian besar, sekitar 86,93 persen, akan dipakai untuk penyertaan modal dan pinjaman tanpa bunga ke dua anak usahanya. Tujuannya untuk pembelian saham di dua perusahaan lain. Sisa dananya akan dialokasikan untuk modal kerja.
Di sisi lain, perusahaan juga mengakui adanya risiko dilusi yang cukup signifikan. Bagi pemegang saham yang memilih tidak menggunakan haknya, kepemilikan mereka bisa terdilusi hingga 90-95 persen. Meski begitu, PACK menegaskan komitmennya untuk tetap memenuhi aturan free float dan berusaha agar sahamnya tidak masuk ke Papan Pemantauan Khusus BEI.
Soal isu delisting yang sempat beredar, manajemen tegas membantah.
"Kami tidak punya rencana sama sekali untuk melakukan voluntary delisting dari BEI," tegas mereka.
Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari PACK. Apakah rally-nya akan berlanjut, atau justru profit taking akan segera terjadi? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, keputusan ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Di Balik Kenaikan IHSG, Sepuluh Saham Ini Justru Terjun Bebas
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026
Stok Beras dan Minyak Goreng di Aceh Aman Jelang Ramadan, Bulog Pastikan Tak Ada Kelangkaan
Dari Reruntuhan Pasar Klewer, Dewi Aminah Bangun Kerajaan Bumbu dan Inspirasi