Pasar Batu Bara Global Terancam Surplus, Harga Diprediksi Terus Melemah

- Jumat, 09 Januari 2026 | 07:45 WIB
Pasar Batu Bara Global Terancam Surplus, Harga Diprediksi Terus Melemah

Prospek batu bara termal global tampaknya masih akan berat di tahun 2026. Pasokan yang melimpah dan permintaan yang lesu diperkirakan bakal terus menekan pasar. Analis JPMorgan bahkan memproyeksikan harga acuan batu bara Newcastle akan berkutat di angka USD100 per ton, dengan tren yang cenderung melemah.

“Kami masih bersikap waspada terhadap prospek batu bara termal,”

Begitu bunyi pernyataan analis mereka dalam riset bertanggal 2 Desember 2025. Sikap hati-hati ini bukan tanpa alasan.

Menurut tim komoditas global JPMorgan, pasar LNG dunia sedang bersiap memasuki fase ekspansi pasokan yang luar biasa besar. Periode 2025-2035 akan menyaksikan gelombang pasokan baru, terutama dari Amerika Serikat dan Qatar, yang mulai membanjiri pasar pada 2026. Imbasnya jelas: tekanan pada permintaan gas dan batu bara.

Di sisi lain, permintaan LNG di pasar-pasar kunci seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa justru menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Pergerakan ini didorong oleh transisi energi yang semakin masif. Bauran energi terbarukan dan nuklir yang terus meningkat perlahan tapi pasti mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tradisional seperti gas dan batu bara.

Dalam situasi seperti ini, efisiensi biaya internal menjadi kunci survival bagi perusahaan tambang batu bara Indonesia. Mereka harus pintar-pintar mengelola ongkos produksi untuk menjaga profitabilitas, terlebih saat harga jual diperkirakan terus melemah. Risiko lain yang mengintai adalah wacana pengenaan pajak ekspor. JPMorgan menilai kebijakan semacam itu berpotensi menggerus laba secara signifikan dan mengikis daya saing batu bara Indonesia di pasar global.

Secara keseluruhan, pasar batu bara termal global diprediksi mengalami surplus di 2026. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan impor dari China. Kenaikan harga yang terjadi di kuartal IV-2025 kemarin dinilai hanya bersifat sementara, lebih karena faktor musim dingin belaka.

Namun begitu, tidak semua jenis batu bara mendapat pandangan suram. JPMorgan justru lebih konstruktif melihat prospek batu bara kokas atau coking coal. Optimisme ini ditopang oleh pertumbuhan produksi baja di India yang diperkirakan melesat sekitar 10 persen per tahun pada 2027. Ruang untuk substitusi ke batu bara PCI juga semakin sempit, sehingga membuka peluang bagi kenaikan permintaan batu bara kokas.

Lalu, adakah katalis positif untuk sektor ini? JPMorgan menyoroti tiga hal. Pertama, potensi penurunan produksi domestik China lewat program anti-involution yang bisa mendongkrak impor dari Indonesia. Kedua, pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS yang menguntungkan emiten berpendapatan dollar. Ketiga, premi risiko geopolitik yang masih bisa menopang harga komoditas.

Tentu, risikonya juga ada. Mulai dari penurunan impor China yang lebih dalam dari perkiraan, pelemahan produksi baja global yang menekan permintaan batu bara metalurgi, hingga pengetatan kebijakan ESG yang makin membatasi minat investor terhadap saham batu bara.

Dari sisi rekomendasi saham, JPMorgan bersikap netral (N) untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan underweight (UW) untuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Program buyback saham ITMG senilai Rp2 triliun dinilai mampu menahan tekanan harga, meski potensi kenaikannya terbatas seiring penurunan profitabilitas.

Pada tingkat profitabilitas saat ini, imbal hasil dividen emiten batu bara Indonesia hanya sekitar 6-7 persen. Angka yang, bagi JPMorgan, kurang menarik.

Rekomendasi UW juga dipertahankan untuk PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Alasannya, perusahaan dipandang sedang beralih ke siklus belanja modal yang agresif, sementara bisnis batu bara sebagai sumber kas utama justru melemah.

Satu titik terang? PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mendapat rekomendasi overweight (OW). Eksposur ADMR terhadap batu bara kokas dan aluminium dinilai memberikan prospek yang lebih cerah. Menurut JPMorgan, operator smelter aluminium yang tidak terintegrasi secara vertikal berpotensi diuntungkan oleh tambahan pasokan alumina dari Indonesia pada 2026, yang bisa menurunkan biaya produksi.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar