Prospek batu bara termal global tampaknya masih akan berat di tahun 2026. Pasokan yang melimpah dan permintaan yang lesu diperkirakan bakal terus menekan pasar. Analis JPMorgan bahkan memproyeksikan harga acuan batu bara Newcastle akan berkutat di angka USD100 per ton, dengan tren yang cenderung melemah.
“Kami masih bersikap waspada terhadap prospek batu bara termal,”
Begitu bunyi pernyataan analis mereka dalam riset bertanggal 2 Desember 2025. Sikap hati-hati ini bukan tanpa alasan.
Menurut tim komoditas global JPMorgan, pasar LNG dunia sedang bersiap memasuki fase ekspansi pasokan yang luar biasa besar. Periode 2025-2035 akan menyaksikan gelombang pasokan baru, terutama dari Amerika Serikat dan Qatar, yang mulai membanjiri pasar pada 2026. Imbasnya jelas: tekanan pada permintaan gas dan batu bara.
Di sisi lain, permintaan LNG di pasar-pasar kunci seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa justru menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Pergerakan ini didorong oleh transisi energi yang semakin masif. Bauran energi terbarukan dan nuklir yang terus meningkat perlahan tapi pasti mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tradisional seperti gas dan batu bara.
Dalam situasi seperti ini, efisiensi biaya internal menjadi kunci survival bagi perusahaan tambang batu bara Indonesia. Mereka harus pintar-pintar mengelola ongkos produksi untuk menjaga profitabilitas, terlebih saat harga jual diperkirakan terus melemah. Risiko lain yang mengintai adalah wacana pengenaan pajak ekspor. JPMorgan menilai kebijakan semacam itu berpotensi menggerus laba secara signifikan dan mengikis daya saing batu bara Indonesia di pasar global.
Secara keseluruhan, pasar batu bara termal global diprediksi mengalami surplus di 2026. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan impor dari China. Kenaikan harga yang terjadi di kuartal IV-2025 kemarin dinilai hanya bersifat sementara, lebih karena faktor musim dingin belaka.
Namun begitu, tidak semua jenis batu bara mendapat pandangan suram. JPMorgan justru lebih konstruktif melihat prospek batu bara kokas atau coking coal. Optimisme ini ditopang oleh pertumbuhan produksi baja di India yang diperkirakan melesat sekitar 10 persen per tahun pada 2027. Ruang untuk substitusi ke batu bara PCI juga semakin sempit, sehingga membuka peluang bagi kenaikan permintaan batu bara kokas.
Artikel Terkait
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026
Empat Emiten Lepas Status Papan Khusus, Perdagangan Kembali Normal Pekan Depan
Menteri Keuangan Bahas Insentif untuk Merger Tiga Anak Usaha Pertamina