Di sisi lain, Suhendra juga tak ketinggalan. Dia membeli 550 ribu saham di harga yang sama, merogoh kocek kurang lebih Rp800 juta. Dengan tambahan ini, kepemilikan pribadinya merangkak naik menjadi 126,6 juta saham, atau sekitar 1,22% dari total modal.
Kalau dilihat lebih luas, kendali atas Ultra Jaya memang masih sangat kuat di tangan keluarga Prawirawidjaja. Selain lewat kepemilikan langsung, Sabana juga menguasai saham melalui PT Prawirajawidja Prakarsa, yang memegang porsi 23,78%. Anak lainnya, Samudera Prawirawidjaja, memiliki 375 juta saham atau 3,61%. Sementara itu, porsi publik tercatat sekitar 1,89 miliar saham, setara 18% saja.
Langkah keluarga ini menarik untuk diamati, terutama dalam konteks pergerakan saham ULTJ yang sedang tidak bersemangat. Sepanjang tahun 2025, saham perusahaan ini terpangkas hampir 20%, terperosok ke level Rp1.440. Imbasnya, kapitalisasi pasarnya pun menyusut hingga ke angka Rp15 triliun.
Di tengah tekanan itu, aksi beli dari dalam internal ini bisa dibaca sebagai sebuah sinyal. Sebuah bentuk keyakinan bahwa masa sulit ini akan bisa dilalui.
Artikel Terkait
Suara Kekecewaan 2025: Ketika KaburAjaDulu Menjadi Pilihan Rasional
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi