Pasar minyak dunia kemarin diguncang berita yang datang dari Venezuela. Alhasil, harga minyak mentah bergerak liar sepanjang hari. Namun, pada akhir sesi perdagangan Senin (5/1), sentimen positif yang menang. Harga ditutup menguat sekitar satu dolar AS per barel.
Mengutip laporan Reuters, minyak mentah Brent berhasil naik USD 1,01 atau 1,66 persen ke level USD 61,76 per barel. Patokan lainnya, minyak West Texas Intermediate (WTI) dari AS, juga mengikuti tren serupa dengan kenaikan USD 1 atau 1,74 persen menjadi USD 58,32 per barel.
Perjalanannya sendiri cukup bergejolak. Sebelumnya, harga sempat anjlok lebih dari satu dolar, lalu melonjak lagi di perdagangan menjelang siang. Pergerakan ekstrem ini tak lepas dari situasi politik di Caracas.
Investor sedang mencerna dampak penangkapan Maduro dan rencana Washington untuk mengambil kendali. Negara anggota OPEC ini memang sudah lama berada di bawah embargo minyak AS. Pertanyaannya sekarang, bagaimana aliran minyaknya ke pasar global akan berubah?
“Ketidakpastian bagi pasar minyak adalah bagaimana aliran minyak dari Venezuela akan berubah akibat langkah-langkah AS,”
Begitu analis Aegis Hedging menulis dalam catatan mereka. Kekhawatiran itu wajar.
Menariknya, menurut empat eksekutif industri yang mengetahui persoalan ini, pemerintahan Trump ternyata tidak berkonsultasi dulu dengan raksasa-raksasa minyak seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips, atau Chevron Corp. Baik sebelum maupun sesudah operasi penangkapan Maduro dilaksanakan.
Namun begitu, pertemuan dengan perusahaan-perusahaan itu kabarnya baru akan digelar akhir pekan ini. Agak terlambat, memang.
“Saya rasa Anda tidak akan melihat perusahaan mana pun selain Chevron yang sudah berada di sana untuk berkomitmen mengembangkan sumber daya ini,”
Ujar salah satu eksekutif tadi, menyiratkan keraguan investor untuk masuk ke Venezuela dalam kondisi yang masih sangat tidak pasti.
Kondisi industri minyak Venezuela sendiri sudah lama memprihatinkan. Produksinya merosot tajam selama beberapa dekade, terhantam salah kelola dan minimnya suntikan modal asing pasca-nasionalisasi di era 2000-an. Tahun lalu, produksinya rata-rata cuma sekitar 1 juta barel per hari. Itu setara dengan satu persen saja dari pasokan minyak global.
Di sisi lain, ada secercah harapan. Presiden sementara Venezuela pada Minggu menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat. Jika hubungan membaik, sanksi bisa dicabut dan minyak yang tertahan bisa mengalir ke pasar.
“Saya memperkirakan serangan dan blokade laut akan dicabut dan, pada akhirnya, sanksi akan dihapuskan, sehingga sebagian besar jika tidak seluruh minyak Venezuela yang tertahan di laut dan di gudang berikat dapat tersedia bagi pasar,”
Kata Simon Wong, Manajer Portofolio di Gabelli Funds. Meski begitu, dia mengingatkan bahwa Venezuela tetap butuh waktu yang tidak sebentar untuk benar-benar meningkatkan produksinya. Jadi, dampak langsung ke pasokan mungkin belum akan terasa dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global