CPO Bangkit Tipis di Tengah Pelemahan Ringgit dan Sinyal Permintaan India

- Senin, 05 Januari 2026 | 15:55 WIB
CPO Bangkit Tipis di Tengah Pelemahan Ringgit dan Sinyal Permintaan India

Setelah dua hari berturut-turut terpuruk, harga minyak sawit mentah atau CPO akhirnya bangkit lagi di awal pekan. Penguatan tipis itu terjadi Senin (5/1/2026), didorong oleh pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia yang membuat komoditas ini lebih terjangkau bagi pembeli dengan mata uang asing.

Di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret naik 0,2 persen, berada di level 3.999 ringgit per metrik ton saat jeda perdagangan siang. Padahal, sepanjang pekan sebelumnya, kontrak ini sempat anjlok 2,42 persen. Jadi, kenaikan ini seperti angin segar meski belum sepenuhnya pulih.

Menurut sejumlah saksi, sentimen awal perdagangan memang cukup positif. Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas di Sunvin Group Mumbai, menyoroti beberapa faktor pendorong.

"Kontrak CPO dibuka menguat, mengikuti kenaikan harga minyak kedelai di Chicago pada Jumat lalu dan perdagangan Asia pagi ini," ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Bagani juga menyebut pelemahan ringgit dan munculnya sinyal permintaan baru dari India turut mendongkrak semangat pasar di sesi awal.

Namun begitu, optimisme itu tampaknya tidak berlangsung lama. Bagani menambahkan, ada bayangan yang membatasi kenaikan lebih lanjut: ekspektasi bahwa stok minyak sawit Malaysia akan membengkak pada akhir 2025. Faktor ini seperti rem yang mencegah harga melonjak terlalu tinggi.

Pergerakan di pasar komoditas lain pun beragam. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian cenderung datar, tidak berubah. Sementara itu, kontrak minyak sawit di bursa yang sama justru terperosok 1,14 persen. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai malah terkoreksi tipis 0,06 persen, padahal sempat menguat di awal sesi.

Memang, hubungan antara minyak sawit dan minyak nabati pesaingnya seperti minyak kedelai sangat erat. Mereka terus berebut pangsa pasar global, jadi pergerakan harganya kerap saling mempengaruhi. Di sisi lain, ringgit yang melemah 0,52 persen terhadap dolar AS menjadi faktor kunci lain yang diincar para trader.

Sementara itu, kondisi pasar secara keseluruhan terlihat campur aduk. Bursa saham Asia menguat, sedangkan harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif. Pelaku pasar tampaknya masih mencerna implikasi dari aksi militer Amerika Serikat di Venezuela. Belum lagi, mereka bersiap menyambut rilis data ekonomi yang padat di pekan perdagangan penuh pertama tahun ini. Semua faktor ini menciptakan suasana yang cukup menegangkan dan tidak pasti.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar