Brasil Bersaing Jadi Pusat Tambang Mineral Tanah Jarang Global, Permintaan Ikat Kunci Era AI dan Energi Hijau

- Selasa, 02 Juni 2026 | 12:25 WIB
Brasil Bersaing Jadi Pusat Tambang Mineral Tanah Jarang Global, Permintaan Ikat Kunci Era AI dan Energi Hijau

Persaingan global untuk menguasai sumber daya strategis abad ini mulai menemukan panggung barunya di Brasil. Bukan emas, kopi, atau karet yang kini menjadi rebutan, melainkan mineral tanah jarang komoditas vital bagi industri kecerdasan buatan dan energi terbarukan yang kerap disebut sebagai emas era modern.

Ahli geologi Andrew Tunks, CEO perusahaan tambang Australia Meteoric Resources, meyakini Brasil akan menjadi pusat proyek-proyek mineral tanah jarang terbesar di dunia berikutnya. "Saya tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan, tetapi saya pikir pada waktunya (Brasil) akan bersaing dengan Cina," ujarnya. Meteoric sendiri telah menanamkan investasi besar-besaran di Brasil melalui proyek Caldeira di negara bagian Minas Gerais, yang diyakini sebagai deposit lempung ionik jenis endapan mineral tanah jarang terbesar di dunia.

Deposit lempung ionik merupakan salah satu sumber utama mineral tanah jarang kategori "menengah" dan "berat", seperti dysprosium dan terbium. Kedua elemen ini sangat krusial dalam pembuatan magnet berkinerja tinggi untuk turbin angin dan kendaraan listrik. Menurut data International Energy Agency (IEA), permintaan terhadap elemen mineral tanah jarang magnetik neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium telah meningkat dua kali lipat sejak 2015 dan diperkirakan bertambah sepertiga lagi pada 2030. Lonjakan ini didorong oleh elektrifikasi dan adopsi teknologi energi baru yang masif.

IEA juga mencatat bahwa perkembangan otomatisasi, robotika, dan teknologi digital akan semakin memperkuat kebutuhan terhadap mineral tanah jarang. Bahan baku ini menjadi tulang punggung bagi kendaraan listrik, pusat data kecerdasan buatan, dan robotika canggih. Brasil, dengan cadangan sekitar 21 juta ton, menempati posisi kedua dunia setelah Cina yang menguasai 44 juta ton.

Meningkatnya permintaan global telah memicu lonjakan pengajuan izin tambang di Badan Pertambangan Nasional Brasil (ANM). Saat ini, terdapat 2.758 proyek yang tengah dipertimbangkan. Sebagai perbandingan, hanya sedikit di atas 250 permohonan pertambangan mineral tanah jarang yang diajukan di Brasil antara 1975 hingga 2020. Namun, antara 2023 dan 2024 saja, angka itu melonjak drastis menjadi 1.662.

Demam emas baru ini juga terasa di pasar saham. Harga saham perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor mineral tanah jarang Brasil melonjak tajam. Dalam 12 bulan terakhir, saham Meteoric (Australia), Resouro Strategic Metals (Kanada), Appia Mineral Rare Earth and Uranium Corp (Kanada), dan USA Mineral Rare Earths (AS) mencatat kenaikan antara 65 hingga 122 persen.

Pada April lalu, USA Mineral Rare Earths mengakuisisi satu-satunya tambang mineral tanah jarang aktif di Brasil dari perusahaan tambang lokal Serra Verde di Minacu, negara bagian Goias, dengan nilai mencapai 2,8 miliar dolar AS atau setara Rp45,64 triliun. "Tambang Pela Ema milik Serra Verde adalah aset yang unik dan satu-satunya produsen di luar Asia yang mampu memasok keempat mineral tanah jarang magnetik dalam skala besar," kata CEO Barbara Humpton usai akuisisi. Ia menekankan pentingnya tambang itu secara strategis, yang diperkuat oleh perjanjian pasokan selama 15 tahun dengan beberapa lembaga pemerintah AS.

Sementara itu, keterlibatan perusahaan-perusahaan Jerman dalam ekstraksi bahan mentah di Brasil masih bersifat "selektif", menurut Kamar Dagang dan Industri Jerman-Brasil di Sao Paulo. Meski demikian, Bruno Vath Zarpellon, kepala pengembangan bisnis di kamar dagang tersebut, mengatakan bahwa Jerman berupaya memperluas kemitraan dengan Brasil di bidang mineral kritis, transisi energi, industri hijau, dan keamanan rantai pasok.

Namun, Serra Verde masih menjadi pengecualian di sektor mineral tanah jarang Brasil. Berbeda dengan Cina, Brasil sejauh ini sebagian besar masih terbatas pada ekspor bahan mentah, bukan memproses dan memurnikannya di dalam negeri. IEA mencatat bahwa Cina kini menguasai lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian mineral tanah jarang global dan mendominasi produksi magnet permanen dengan pangsa pasar sekitar 95 persen.

Ketergantungan ini sempat terasa dampaknya oleh industri elektronik tahun lalu. Ketika Cina memberlakukan kontrol ekspor mineral tanah jarang selama perselisihan tarif dengan Presiden AS Donald Trump, terjadilah kekurangan pasokan. Brasil, bersama negara kaya sumber daya lain seperti India, Vietnam, Swedia, dan Norwegia, kini berupaya membangun rantai nilai mineral tanah jarang mereka sendiri. Namun, CEO Meteoric Andrew Tunks mengingatkan bahwa hal itu membutuhkan waktu. "Brasil dapat menjadi kompetitif relatif cepat dalam penambangan. Tetapi untuk manufaktur, masih akan memerlukan waktu," katanya.

Dari perspektif geologi, Brasil memiliki keunggulan dibanding negara lain dengan cadangan mineral tanah jarang besar. Menurut Brazilian Geological Society (SBG), sekitar 73 persen deposit negara tersebut terdiri dari formasi lempung ionik. "Ini adalah deposit di mana alam sudah melakukan sebagian pekerjaan pemrosesan," jelas Francisco Valdir Silveira, kepala SBG. "Batuan granit asalnya sudah mengalami perubahan atau pelapukan seiring waktu. Itu membuat deposit lempung ionik lebih mudah ditambang."

Tunks melihat keunggulan tambahan dalam ekstraksi dan pemrosesan mineral tanah jarang di Brasil. "Pemisahan membutuhkan banyak listrik dan air. Tambang kami di Brasil sepenuhnya menggunakan energi terbarukan, dan listriknya murah," ujarnya. "Anda tidak punya kondisi seperti itu di Australia. Di sana sangat kering dan listrik sangat mahal."

Tunks berharap "demam emas" Brasil akan mengambil jalur yang berbeda dibanding yang terjadi di negara asalnya. "Di Australia, kami mengekstraksi bahan mentah dalam jumlah besar dan langsung mengirimkannya ke Cina. Kami tidak menciptakan nilai tambah apa pun dari itu. Saya berharap Brasil bisa melakukan lebih baik," pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar