Soal Amin Sunarko, dia bukan cuma pucuk pimpinan di SULI. Pria ini juga duduk sebagai Direktur di Naturverse, yang kebetulan adalah pemegang saham mayoritas SULI dengan kepemilikan sekitar 20,57%.
Lalu, untuk apa dana segar itu digunakan? Utamanya, untuk membayar liabilitas jangka pendek yang membebani perusahaan. Per 30 September 2025, beban itu mencapai USD 23,4 juta. Dengan pelunasan yang fleksibel hingga akhir Maret 2026, pinjaman ini diharapkan bisa memberi ruang gerak bagi arus kas. Setidaknya, perusahaan bisa bernapas lega dan fokus ke hal-hal yang produktif.
Harapannya jelas: kinerja perusahaan membaik. Targetnya, produksi dan penjualan bisa didongkrak lebih agresif untuk membalikkan tren keuangan yang suram.
Memang, jalan masih panjang. Hingga kuartal ketiga 2025, SULI masih tercatat merugi Rp 19 miliar. Tapi, angka itu sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan dibanding periode sama tahun sebelumnya yang ruginya mencapai Rp 107 miliar. Sebuah titik terang, meski kecil.
Jadi, pinjaman dari direktur ini lebih dari sekadar transaksi. Ini adalah upaya penyelamatan dari dalam, sebuah langkah nekat untuk bertahan dan berharap bisa bangkit kembali.
Artikel Terkait
Trump Incar Kuba dan Kolombia, Apa yang Diincar dari Dua Negara Ini?
Huntara Aceh Tamiang Capai 75 Persen, Siap Huni 336 Warga Terdampak
Medco Energi Suntik Rp 2,4 Miliar untuk Empat Anak Usaha
Raksasa Besi Tua OPMS Banting Setir ke Bisnis Pangan, Saham Melonjak 163%