Setelah aksi penyerangan dan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, fokus Donald Trump tampaknya mulai bergeser. Target berikutnya? Dua negara Amerika Latin lain: Kuba dan Kolombia. Langkah ini menandai eskalasi yang cukup serius di kawasan.
Tak lama usai gerakannya di Venezuela, Trump dengan terang-terangan menyatakan ambisinya untuk "menumbangkan rezim" di Kuba. Bahkan, dia juga membuka peluang untuk melancarkan operasi militer terhadap Kolombia. Situasinya jadi makin panas.
Alasan resmi untuk Venezuela adalah perang melawan narkoba. Pertanyaannya, akankah alasan yang sama dijadikan dalih untuk Kuba dan Kolombia? Apa sebenarnya yang dimiliki kedua negara ini sehingga menarik perhatian Trump? Mari kita lihat lebih dekat.
Melihat Lebih Dekat Perekonomian Kuba
Kuba, dengan prinsip sosialisnya, menjalankan sistem ekonomi terencana. Intinya, pemerintah memegang kendali penuh atas sektor-sektor utama. Menurut data Bank Dunia, PDB per kapita mereka tahun 2020 sekitar USD 9.605. Tapi angka itu agak menipu. Nyatanya, negara ini sudah bertahun-tahun dilanda krisis ekonomi, dengan pertumbuhan yang terus merosot.
Di sisi lain, Kuba sebenarnya punya kekayaan alam yang beragam. Sektor pertambangan masih jadi andalan untuk mendapatkan devisa. Mereka punya cadangan nikel terbesar di dunia, menempati peringkat lima atau enam global. Nilai ekspornya pada 2022 saja mencapai sekitar USD 961 juta.
Belum lagi kobalt. Kuba adalah produsen utamanya. Ada juga seng, timbal, tembaga, dan besi dengan cadangan yang cukup besar. Sayangnya, pengolahan semua ini masih terbentur masalah teknologi dan investasi.
Di bidang pertanian, tebu adalah komoditas penting. Tapi produksi untuk musim 2024-2025 hanya sekitar 160 ribu metrik ton. Jauh sekali dari kebutuhan dalam negeri yang mencapai 700 ribu ton per tahun. Nilai ekonominya pun cuma berkisar USD 48-50 juta.
Namun begitu, ada satu hal yang membuat Kuba benar-benar terkenal: tembakau. Cerutu Kuba diakui sebagai yang terbaik di dunia. Menurut laporan Habanos S.A. tahun 2024, pendapatan dari bisnis ini mencapai USD 827 juta. Mereka bahkan memproyeksikan angka itu bisa tembus USD 1 miliar pada 2026, didorong permintaan gila-gilaan dari pasar Asia, terutama China.
Artikel Terkait
Analis Ingatkan: IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Tapi Waspadai Koreksi
Tiang Monorel Mangkrak di Jakarta Akan Dibongkar Pekan Ketiga Januari
Dua Petinggi TAYS Serahkan Surat Mundur, Saham Justru Meroket
Pintu Saudi Terbuka: Properti Kerajaan Jadi Buruan Investor Global