Detrick melihat hal ini sebagai dinamika wajar. "Risalah rapat The Fed semakin menegaskan bahwa sebenarnya ada dua sisi terkait kebijakan masa depan. Kenyataannya, inflasi masih agak tinggi, tapi The Fed juga perlu mempertimbangkan pemangkasan suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mungkin melemah di 2026," jelasnya.
Pergerakan di kawasan Asia-Pasifik beragam. Indeks saham pasar berkembang MSCI (.MSCIEF) naik tipis 0,17% ke 1.404,09. Indeks MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang) juga menguat 0,13% ke 722,72. Tapi Nikkei Jepang malah turun 0,37% ke level 50.339,48.
Sementara itu, harga emas dan perak berhasil bangkit dari penurunan tajam sesi sebelumnya. Aksi ambil untung di akhir tahun tampaknya sudah mereda. Emas spot naik 0,3% ke USD 4.344,75 per troy ounce, bersiap mencatat kenaikan tahunan terbaik sejak 1979. Perak bahkan melonjak lebih signifikan, 5,4%, ke USD 76,20.
Pergerakan dolar AS cukup stabil pasca rilis risalah The Fed. Indeks dolar menguat 0,23% ke 98,23, meski secara tahunan masih menuju penurunan terbesar dalam delapan tahun. Euro sedikit melemah 0,23% terhadap dolar, menjadi USD 1,1745. Sedangkan yen Jepang terus tertekan, dengan dolar menguat 0,26% ke level 156,44 yen.
Aset kripto bergerak positif. Bitcoin naik 0,74% ke USD 87.888,55, sementara Ethereum menguat 0,71% ke USD 2.955,35.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bergerak beragam. Yield obligasi 10-tahun naik sangat tipis, hanya 0,4 basis poin, menjadi 4,12%. Yield obligasi 30-tahun juga naik 0,1 basis poin ke 4,805%. Sebaliknya, yield obligasi 2-tahun yang sangat sensitif dengan ekspektasi suku bunga The Fed justru turun 1,9 basis poin menjadi 3,446%.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran
Fore Kopi Indonesia Catat Laba Bersih Rp90 Miliar, Naik 55% pada 2025
Pemerintah Resmi Terapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN Mulai April 2026
Semen Baturaja Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025