Pasar logam mulia dunia diguncang aksi ambil untung besar-besaran pada Senin kemarin. Harga-harga yang sebelumnya melesat ke rekor tertinggi, tiba-tiba ambruk. Perak dan platinum, yang baru saja mencatat level tertinggi sepanjang masa, ikut terseret koreksi tajam.
Emas spot, misalnya, merosot 4,43 persen ke level USD 4.332,56 per troy ons. Padahal, logam kuning ini baru saja menyentuh puncak fantastis di angka USD 4.549,71 pada Jumat lalu. Tapi, penurunan yang lebih dramatis justru terjadi pada platinum dan paladium. Platinum anjlok 14,5 persen, sementara paladium ambles nyaris 16 persen.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut David Meger dari High Ridge Futures, ini murni aksi koreksi setelah kenaikan yang terlalu ekstrem.
“Semua logam ini telah naik ke level tertinggi, baik tertinggi terkini maupun sepanjang masa. Yang kita lihat sekarang adalah aksi ambil untung dari level yang sangat tinggi tersebut,” ujarnya.
Intinya, investor memutuskan untuk mengamankan keuntungan mereka. Setelah reli panjang, wajar jika ada jeda untuk bernapas sejenak.
Namun begitu, jika dilihat dari perjalanan sepanjang tahun, kinerja logam mulia tetap spektakuler. Emas telah naik sekitar 65 persen. Tapi bintang utamanya adalah perak, yang melonjak luar biasa sekitar 147 persen! Kenaikan ini didorong statusnya sebagai mineral kritis, ditambah permintaan industri yang kuat dan pasokan yang terbatas.
David Meger sendiri masih optimis dengan prospek perak ke depan.
“Saya percaya fundamental berupa kendala pasokan perak masih menjadi faktor penting di pasar, dan prospeknya tetap positif menuju 2026,” imbuhnya.
Di sisi lain, faktor geopolitik juga selalu jadi perhatian. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Rusia akan meninjau kembali posisinya dalam perundingan damai. Pemicunya adalah serangan drone yang ditudingkan ke Ukraina. Situasi seperti ini biasanya mendorong minat pada emas sebagai safe haven, meski pada hari itu sentimen ambil untung lebih dominan.
Daniel Ghali, seorang strategis komoditas di TD Securities, punya catatan lain. Ia menilai penurunan harga diperburuk oleh likuiditas pasar yang tipis. Sebagian besar terkait dengan tenggat waktu kebijakan dari pemerintahan Trump soal investigasi mineral kritis, ditambah kondisi perdagangan yang memang sedang sepi karena libur.
Jadi, meski harganya terjun bebas hari itu, narasi jangka panjang untuk logam mulia terutama perak tampaknya belum berakhir. Koreksi ini mungkin hanya sebuah babak dalam cerita yang lebih panjang.
Artikel Terkait
Pemerintah Batasi Operasional Truk di Tol dan Arteri Saat Puncak Mudik Lebaran 2026
BRI Group Raih Empat Penghargaan Keuangan Berkelanjutan di Singapura
Investor Ragu, Saham Big Tech Anjlok Triliunan Dolar di Awal 2026
Dua Komisaris Mundur, TRON Tetap Lanjutkan Ekspansi ke Bisnis Stasiun Isi Ulang Kendaraan Listrik