David Meger sendiri masih optimis dengan prospek perak ke depan.
Di sisi lain, faktor geopolitik juga selalu jadi perhatian. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Rusia akan meninjau kembali posisinya dalam perundingan damai. Pemicunya adalah serangan drone yang ditudingkan ke Ukraina. Situasi seperti ini biasanya mendorong minat pada emas sebagai safe haven, meski pada hari itu sentimen ambil untung lebih dominan.
Daniel Ghali, seorang strategis komoditas di TD Securities, punya catatan lain. Ia menilai penurunan harga diperburuk oleh likuiditas pasar yang tipis. Sebagian besar terkait dengan tenggat waktu kebijakan dari pemerintahan Trump soal investigasi mineral kritis, ditambah kondisi perdagangan yang memang sedang sepi karena libur.
Jadi, meski harganya terjun bebas hari itu, narasi jangka panjang untuk logam mulia terutama perak tampaknya belum berakhir. Koreksi ini mungkin hanya sebuah babak dalam cerita yang lebih panjang.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168