IHSG Diproyeksi Tembus 8.725, Didorong Aksi Korporasi dan Window Dressing Akhir Tahun

- Selasa, 30 Desember 2025 | 04:06 WIB
IHSG Diproyeksi Tembus 8.725, Didorong Aksi Korporasi dan Window Dressing Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan masih punya peluang untuk melanjutkan penguatan. Sentimen pasar memang sedang hangat. Ada faktor window dressing yang biasa terjadi, ditambah kondisi global yang mendukung dan aksi korporasi yang ramai.

Istilah window dressing itu sendiri merujuk pada strategi para pelaku pasar untuk mempercantik portofolio mereka di penghujung tahun. Praktik ini kerap memicu kenaikan harga saham, meski biasanya bersifat jangka pendek.

Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank, melihat fenomena ini berjalan sesuai pola. Menurutnya, penguatan IHSG akhir tahun ini sejalan dengan praktik tersebut dan didorong sentimen dari luar.

"Ya, kalau kita lihat IHSG kelihatannya ada window dressing ya akhir tahun ini. Dan kebetulan juga didukung oleh faktor global, ya,"

Dia menyebut beberapa hal yang jadi pendorong. Kenaikan harga emas, misalnya, memberi sentimen positif. Tak ketinggalan, berbagai aksi korporasi dari emiten juga berperan.

"Seperti ada kenaikan harga emas. Lalu juga ada faktor beberapa korporasi melakukan corporate action, ya. Ini juga ada yang pengaruh positif, ya,"

Aksi korporasi yang dimaksud cukup beragam. Mulai dari rencana akuisisi dan kerja sama strategis, hingga penerbitan obligasi dan right issue. Sektor komoditas dan energi terlihat cukup aktif.

“Seperti ada yang mau akuisisi, termasuk juga ada kerjasama strategis. Dan juga ada yang melakukan right issue, juga obligasi, ya,”

Memang, saham-saham di sektor energi dan sumber daya alam menunjukkan pergerakan yang solid belakangan ini.

"Benar-benar obligasi seperti saham-saham bumi ataupun energi, ya. Yang ternyata kita lihat pergerakannya juga cukup positif, ya, dalam beberapa hari terakhir,"

Dengan kombinasi faktor-faktor itu, Myrdal memproyeksikan IHSG berpotensi mendekati level 8.725 di penutupan tahun.

"Ya, kita lihat sih untuk IHSG, posisi akhir tahun ini bisa mendekati level 8.725, ya. Sekitar segitu. 8.725, memang ini kelihatannya masih on track, ya, hingga saat ini,"

Dari sisi sektor, dia menilai beberapa bidang masih menarik untuk dicermati. Pertambangan emas dan energi masih menunjukkan daya tariknya, diikuti transportasi dan teknologi.

"Ada saham-saham dari sektor emas, ya. Ini mining emas, ya, yang kalau kita lihat ini menarik, ya. Lalu juga sektor energi, ini kelihatan masih naik, ya,"
"Termasuk juga kita lihat saham-saham terkait dengan IT juga, termasuk internet, ya, ini naik, ya. Beberapa emitennya kita lihat kenaikannya cukup kuat, ya. Dan ini diharapkan sih terus berlanjut sampai akhir tahun,"

Khusus soal maraknya right issue, Myrdal punya pandangan positif. Langkah ini dinilai strategis, terutama bagi emiten yang saham publiknya masih terbatas.

"Lalu kalau untuk right issue, sebenarnya ini bagus, ya, rencana strategis emiten. Apalagi kalau misalkan floating market mereka itu yang beredar, jadi misalkan saham-saham mereka yang beredar di market itu masih sedikit, ini saya rasa keputusan yang strategis, ya,"

Alasannya, right issue memberi jalan bagi perusahaan untuk menambah kas tanpa terbebani bunga. "Mereka bisa menambah cash tanpa harus mereka terkena beban bunga, ya. Paling ada biaya administrasi saja sih ke underwriter. Cuman ya ini langkahnya menurut saya sih sangat strategis, ya," tambahnya.

Di sisi lain, analis lain punya catatan tersendiri. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Sekuritas, mengingatkan bahwa likuiditas pasar cenderung menipis di dua hari terakhir perdagangan tahun ini. Meski begitu, potensi window dressing tetap jadi perhatian.

"Tinggal 2 hari lagi menuju akhir perdagangan bursa di Tanah Air pada tahun 2025. Biasanya, likuiditas cenderung tipis pada 2 hari tersebut. Tetap saja, pelaku pasar mencermati potensi window dressing dan penyesuaian portfolio akhir tahun,"

Nafan juga mengingatkan soal potensi volatilitas yang bisa meningkat, terutama pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah.

Dari kacamata global, sentimen akhir tahun terlihat terjaga. Ekspektasi akan stabilitas ekonomi dan prospek laba perusahaan yang kuat turut mendukung, ditambah optimisme untuk tahun 2026.

"Sementara dari eksternal, investor global berekspektasi bahwa sentimen akhir tahun tentunya diperkuat data ekonomi yang tetap stabil, dan ekspektasi laba perusahaan yang kuat, serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan di 2026,"

Namun begitu, dia mengimbau investor untuk tetap waspada. Risiko global yang bisa memicu gejolak pasar harus selalu diantisipasi.

Faktor domestik juga perlu diawasi. Perhatian pasar, kata Nafan, tertuju pada rencana pemerintah menegakkan hukum terhadap perusahaan sawit dan pertambangan ilegal.

"Kembali ke domestik, pemerintah menyiapkan rencana penegakan hukum untuk mengenakan denda sekitar USD 8,5 miliar pada 2026 terhadap perusahaan sawit dan pertambangan yang beroperasi ilegal di kawasan hutan,"

Langkah ini bertujuan memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Di satu sisi, hal ini berpeluang mempengaruhi persepsi investor terkait aspek keberlanjutan di pasar modal.


Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar