“Rare earth kita juga masih dalam proses. Itu by-product dari Timah,” jelasnya.
Kenapa AS begitu serius? Ternyata, kebutuhan mereka sangat luas. Mineral kritis ini dibutuhkan untuk industri otomotif, penerbangan, bahkan untuk pertahanan dan perlengkapan militer. “Terhadap semua akses itu mereka perlukan. Karena itu untuk otomotif, untuk pesawat terbang, untuk roket, untuk pertahanan peralatan, pertahanan militer,” papar Airlangga.
Di sisi lain, ada kabar bagus terkait tarif. Negosiasi soal tarif resiprokal yang dikenakan AS ke Indonesia akhirnya menemui titik terang. Dokumen Agreement Reciprocal Trade (ART) konon sudah disetujui kedua belah pihak. Sekarang, tinggal menunggu proses teknisnya diselesaikan.
“Setelah seluruh proses teknis diselesaikan maka diharapkan sebelum akhir bulan Januari ini (2026) akan disiapkan dokumen untuk dapat ditandatangani secara resmi oleh Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Amerika Serikat Pak Donald Trump,” kata Airlangga dalam kesempatan terpisah.
Jika jadwalnya sesuai, Prabowo akan terbang langsung ke Washington DC untuk penandatanganan bersejarah itu. Meski demikian, waktu pastinya masih diatur oleh pemerintah AS. Mereka yang akan menentukan momen yang tepat untuk pertemuan antara Prabowo dan Trump.
Artikel Terkait
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan
WOM Finance Bagikan Dividen Rp46 Miliar dari Laba Bersih Rp142,5 Miliar