Harga emas Antam melanjutkan tren positifnya di akhir pekan ini. Pada Jumat, 26 Desember 2025, logam mulia itu kembali merangkak naik. Tepatnya, naik Rp13.000 per gramnya. Kalau mau beli, Anda harus merogoh kocek Rp2.589.000 untuk setiap gram emas batangan Antam.
Di sisi lain, harga buyback-nya juga ikut terdongkrak. Artinya, kalau Anda berniat menjual kembali emas batangan ke Antam, harganya juga naik senilai Rp13.000, menjadi Rp2.448.000 per gram. Info harga ini berlaku untuk transaksi di kantor Antam yang berlokasi di Pulo Gadung, Jakarta.
Namun begitu, ada sedikit catatan. Melihat ke laman resmi Logam Mulia, stok untuk beberapa jenis pecahan emas ternyata belum tersedia. Jadi, sebaiknya cek dulu sebelum berangkat.
Untuk urusan pajak, ada kabar yang cukup menggembirakan. Saat ini, PPN tidak lagi dipungut, merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2022. Jadi, total harga yang Anda bayar sudah bersih dari komponen PPN itu.
Tapi, ada potongan PPh 22 sebesar 0,25 persen yang tetap berlaku, sesuai PMK No. 48 tahun 2023.
“Bukti potong PPh 22 akan diterbitkan oleh PT ANTAM Tbk selaku Penjual,” begitu ketentuannya.
Nah, buat Anda yang penasaran dengan rincian harganya, berikut daftar lengkapnya per pecahan, diambil dari laman resmi Logam Mulia:
Emas 0,5 gram: Rp1.344.500
Emas 1 gram: Rp2.589.000
Emas 2 gram: Rp5.118.000
Emas 3 gram: Rp7.652.000
Emas 5 gram: Rp12.720.000
Emas 10 gram: Rp25.385.000
Emas 25 gram: Rp63.337.000
Emas 50 gram: Rp126.595.000
Emas 100 gram: Rp253.112.000
Emas 250 gram: Rp632.515.000
Emas 500 gram: Rp1.264.820.000
Emas 1.000 gram: Rp2.529.600.000
Begitulah situasi harga emas Antam menjelang akhir pekan. Naik lagi, dan banyak yang memperhatikannya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 4 Persen Setelah Iran Disebut Hentikan Negosiasi dengan AS dan Ancam Blokade Selat Hormuz
Analis: Risiko Penghapusan AMMN dan BRMS dari Indeks Emas Global GDX Terbatas Meski Ada Aturan Free Float Baru
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Chip AI Nvidia
IHSG Diprediksi Masih Rawan Koreksi pada Awal Juni, Sentimen Makro dan Geopolitik Jadi Penentu