Di sisi lain, Samsul melihat ini sebagai respons yang positif. Upaya edukasi dan literasi pasar modal selama beberapa tahun belakangan, rupanya membuahkan hasil. Kesadaran masyarakat untuk menjadikan pasar modal sebagai alternatif investasi entah lewat saham, surat utang, atau reksa dana semakin tumbuh.
"Upaya untuk memperkenalkan industri pasar modal kepada masyarakat saat ini sudah direspons secara positif," tegasnya.
Kalau kita lihat ke belakang, pertumbuhannya memang luar biasa. Bayangkan, di akhir 2020 jumlah SID masih berkutat di 3,8 juta. Lalu melesat lebih dari lima kali lipat hanya dalam lima tahun. Lonjakan yang fantastis.
Buat Samsul, capaian ini lebih dari sekadar angka. Ini menunjukkan pergeseran pola pikir. Masyarakat Indonesia kini tampaknya lebih terbuka dan aktif. Pasar modal bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan pilihan yang masuk akal untuk pengelolaan dana jangka panjang.
Perubahan orientasi itu, pada akhirnya, yang mungkin jadi kunci utama gelombang investor baru ini.
Artikel Terkait
Ekonom Perkirakan The Fed Pertahankan Suku Bunga Sampai September
Laba Bersih Amman Mineral Anjlok 60% di Tengah Masa Transisi Operasional
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan