"Secara historis, permintaan terhadap dolar AS meningkat di akhir tahun untuk keperluan pembayaran dividen ke luar negeri, pembayaran utang valas, serta kebutuhan impor," jelasnya.
Belum lagi kekhawatiran dari lembaga seperti World Bank soal potensi pelebaran defisit APBN Indonesia yang mendekati batas 3%. Hal kecil seperti ini bisa mempengaruhi persepsi investor internasional, lho.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada harapan. Wahyu masih melihat celah untuk pemulihan.
"Namun ada harapan pelemahan rupiah akan tertahan. Bagaimanapun faktor fundamental global terutama USD sangat signifikan pengaruhnya terhadap rupiah. Jika USD terus melemah potensial rupiah bertahan dan rebound akan makin terbuka," paparnya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Wahyu berharap Bank Indonesia (BI) tak hanya aktif melakukan intervensi di tiga jalur pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder SBN untuk menyeimbangkan pasar valas. Lebih dari itu, komunikasi yang jelas ke pasar dinilai sangat krusial.
"Memberikan sinyal yang jelas kepada pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia seperti inflasi yang terjaga dan surplus neraca perdagangan masih kuat untuk mencegah spekulasi berlebihan," tutup Wahyu.
Jadi, pelemahan hari ini adalah hasil dari campuran faktor internal dan eksternal. Mulai dari bencana alam, ketegangan perdagangan, hingga kebutuhan dolar akhir tahun. Semuanya bersatu menekan rupiah. Tinggal menunggu langkah otoritas dan pergerakan dolar global untuk menentukan arah selanjutnya.
Artikel Terkait
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo
IHSG Anjlok 1,34% Usai Reli, Aksi Jual Big Cap Jadi Pemicu
Petrosea dan Konsorsium Amankan Kontrak Rp989 Miliar untuk Proyek LNG Masela
IHSG Berbalik Merah Usai Dibuka Menguat, Sektor Keuangan dan Industri Jadi Penahan