Komoditas logam mulia juga sedang bersinar. Harga perak melesat ke rekor tertinggi, menembus level 70 dolar AS per ons. Emas pun tak ketinggalan, menyentuh level tertinggi sepanjang masa.
Kembali ke data ekonomi AS yang jadi pusat perhatian. Estimasi awal menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh pada laju tahunan 4,3 persen di kuartal ketiga. Angka ini jauh melampaui proyeksi para ekonom yang hanya 3,3 persen, berdasarkan jajak pendapat Reuters. Kekuatan utamanya datang dari belanja konsumen yang tetap solid.
Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist di Ingalls & Snyder, New York, memberikan komentarnya.
"Kita sebenarnya masih dalam fase mengejar data ekonomi yang tertunda, dan PDB memang indikator yang lagging. Tapi, data ini jelas menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi kita melebihi apa yang diperkirakan banyak orang," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Memang, sejumlah data ekonomi AS belakangan ini telat dirilis. Penyebabnya adalah penutupan pemerintahan federal yang memecahkan rekor durasinya.
Pada penutupan perdagangan Selasa (23/12), Dow Jones naik 0,09 persen ke level 48.406,82. S&P 500 juga naik 0,09 persen ke 6.884,37. Sementara Nasdaq Composite menguat sangat tipis, 0,03 persen, menjadi 23.435,22.
Artikel Terkait
Pasar Saham Asia Melonjak Didorong Harapan Meredanya Konflik Timur Tengah
BEI Cabut Suspensi Saham FITT, Saham ASPR Justru Dikenai Suspensi
Harga Emas Antam Naik Rp75 Ribu per Gram, Buyback Melonjak Rp110 Ribu
BEI Naikkan Batas Minimum Free Float Saham Jadi 15 Persen