Wall Street kembali mencatatkan sejarah. Di penghujung perdagangan Selasa (23/12/2024), pasar saham AS berhasil memecahkan rekor tertinggi baru. Pemicunya? Laporan pertumbuhan ekonomi yang ternyata jauh lebih kuat dari yang diperkirakan banyak analis. Meski begitu, awan gelap inflasi masih menggantung dan tak bisa diabaikan begitu saja.
Indeks S&P 500 melonjak 0,5 persen, menembus level 6.909,79. Angka itu melampaui rekor sebelumnya yang baru saja dicapai awal Desember 2025. Dow Jones dan Nasdaq juga ikut menguat, masing-masing naik 0,2 persen dan 0,6 persen. Tapi ada yang menarik: kenaikan ini sebenarnya didorong oleh segelintir saham saja. Mayoritas saham di bursa justru berakhir di zona merah.
Seperti biasa, saham teknologi jadi penyelamat. Mereka terus menjadi penopang utama sepanjang tahun ini. Nvidia, misalnya, melesat 3 persen dan jadi penyumbang terbesar bagi kenaikan indeks. Alphabet juga ikut naik 1,5 persen.
Di sisi lain, ada kejutan dari sektor kesehatan. Saham Novo Nordisk melonjak tajam 7,3 persen. Lonjakan ini terjadi setelah regulator AS memberi lampu hijau untuk versi pil dari obat penurun berat badan Wegovy. Ini menjadi obat oral harian pertama yang disetujui untuk mengatasi obesitas.
Laporan makroekonomi yang dirilis hari itu memang cukup solid. Ekonomi AS tumbuh 4,3 persen secara tahunan pada kuartal ketiga 2025, naik dari 3,8 persen di kuartal sebelumnya. Namun begitu, angka inflasi tetap membandel. Indeks PCE, tolok ukur favorit The Fed, naik ke 2,8 persen jauh di atas target mereka yang cuma 2 persen.
Kondisi ini jelas mempersulit pekerjaan Federal Reserve. Mereka terjepit antara pertumbuhan yang panas dan inflasi yang enggan turun.
“The Fed selama ini menyeimbangkan risiko inflasi dengan melemahnya pasar tenaga kerja, dan laporan hari ini semakin memperumit dilema yang mereka hadapi,”
Demikian penilaian Dominic Pappalardo, Kepala Strategi Multi-Aset di Morningstar Wealth. Posisi bank sentral memang sedang sulit-sulitnya.
Sepanjang 2025, The Fed sudah memangkas suku bunga tiga kali. Tapi arah kebijakan ke depan masih jadi perdebatan sengit di antara para pejabatnya. Proyeksinya beragam, mulai dari menahan suku bunga sampai kemungkinan dua kali pemotongan lagi di tahun 2026.
Sementara di lapangan, sentimen konsumen justru mendingin. Indeks kepercayaan konsumen anjlok ke level terendah sejak April lalu. Orang-orang juga terlihat lebih hati-hati dalam membelanjakan uangnya, terlihat dari perlambatan penjualan ritel.
Pasar obligasi pun merespons. Imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun naik ke 4,16 persen. Harga emas merangkak naik 0,8 persen, menyentuh USD4.505,70 per ons. Minyak mentah AS sendiri relatif stabil, bertahan di kisaran USD58,38 per barel.
Jadi, rekor baru di Wall Street ini diraih dengan latar yang cukup rumit. Pertumbuhan ekonomi memang kuat, tapi tekanan inflasi dan kebingungan soal arah suku bunga tetap menjadi tantangan besar yang menunggu di depan.
Artikel Terkait
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan
45 Emiten Jadwalkan Pembagian Dividen pada Juni 2026, INTP Tertinggi Rp468 per Saham
CTBN Bagikan Dividen Rp372,17 Miliar untuk Tahun Buku 2025
Rupiah Terperosok ke Rp17.885 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Global dan Impor Minyak Tinggi