Berdasarkan data BEI per November 2025, ada dua pemegang saham pengendali. Yang pertama adalah PT Sari Nusantara Gemilang, dengan kepemilikan sekitar 55% saham.
Pemegang saham mayoritas berikutnya adalah PT Karya Permata Insani, menguasai sekitar 25% saham TCPI.
Sisanya, sekitar 20%, beredar di tangan publik. Namun, jika dirunut lebih jauh, penerima manfaat akhir atau pemilik sebenarnya dari kepemilikan saham ini adalah Abdullah Popo Parulian. Dua perusahaan pengendali tadi sendiri punya bisnis yang beragam, mulai dari perdagangan, real estate, hingga jasa angkutan darat dan perbengkelan.
TCPI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2018. Mereka berhasil mengumpulkan dana segar Rp138 miliar dari penawaran perdana sahamnya. Kinerja sahamnya belakangan cukup menarik perhatian.
Pada sebuah sesi perdagangan di akhir Desember 2025, saham TCPI ditutup menguat sekitar 5%, berada di kisaran Rp8.950 per lembar. Bahkan, saham ini sempat masuk dalam daftar saham dengan nilai transaksi tinggi, mencatat transaksi ratusan miliar rupiah dalam satu hari. Dalam sebulan terakhir, harganya tercatat naik lebih dari 15%.
Begitulah sekilas profil dan kepemilikan PT Transcoal Pacific. Sebuah perusahaan yang tumbuh dari kontrak pertama di Kalimantan, hingga kini menjadi pemain penting di angkutan laut untuk sektor energi.
Artikel Terkait
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
IEA Peringatkan Kerusakan Aset Energi di Timur Tengah Picu Krisis Global
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram Pasca-Lebaran, Galeri24 dan UBS Stabil