Jepang Siap Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz, Buka Opsi Pengerahan Pasukan Bela Diri

- Senin, 23 Maret 2026 | 17:00 WIB
Jepang Siap Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz, Buka Opsi Pengerahan Pasukan Bela Diri

Istanbul – Di tengah ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah, muncul komitmen baru dari sekutu Amerika Serikat. Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah menyatakan kesediaannya untuk mengirimkan kapal-kapal angkatan laut ke Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Waltz dalam sebuah wawancara dengan CBS News pada hari Minggu (22/3).

“Karena begitu banyak energi yang dikirim ke Eropa melalui selat tersebut, Perdana Menteri Jepang baru saja berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya,” ujar Waltz.

Ia lalu menambahkan, “Dan 80 persen dari energi yang keluar dari Teluk dikirim ke Asia. Jadi, kami melihat sekutu kita berbalik arah sebagaimana mestinya.”

Namun begitu, Waltz juga menegaskan sikap keras Washington. “Presiden (Donald Trump) tidak akan mentolerir rezim ini, karena telah mengancam dan mencoba selama lima dekade untuk menyandera pasokan energi dunia,” tegasnya.

Isyarat dari Tokyo ternyata tak berhenti di situ. Pemerintah Jepang juga membuka kemungkinan mengerahkan Pasukan Bela Diri (SDF) untuk misi penyapuan ranjau di selat strategis itu. Syaratnya, jika saja gencatan senjata bisa tercapai antara Iran, AS, dan Israel.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi yang baru saja menghadiri pertemuan puncak dengan AS di Washington, Kamis lalu, mengakui keunggulan teknologinya. “Teknologi penyapu ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia,” katanya.

“Katakanlah gencatan senjata terjadi, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya,” lanjut Motegi, merujuk pada potensi pengerahan SDF.

Meski demikian, Motegi berusaha meredam spekulasi. Ia menegaskan bahwa dalam pertemuan dengan AS, “tidak ada janji khusus” yang dibuat. Saat ini, katanya, tidak ada masalah yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut di Tokyo.

Latar belakang dari semua ini adalah serangkaian serangan yang dimulai sejak akhir Februari. Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu dibalas Teheran dengan drone dan rudal, yang berulang kali menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Kepentingan Jepang di kawasan ini sangat nyata. Negeri Sakura itu mengimpor sekitar 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah. Dan sebagian besar dari minyak itu harus melewati jalur sempit Selat Hormuz, membuat keamanan di sana menjadi urat nadi bagi perekonomian Jepang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar