"Awalnya nikel jadi mineral utama untuk baterai EV. Tapi sekarang, banyak teknologi yang lebih baik muncul, nggak lagi bergantung sama nikel sebagai bahan baku inti."
Langkah pemangkasan ini sendiri bukan tanpa alasan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah mengumumkan rencana itu sebagai respons atas tren harga yang terus melorot sepanjang 2025.
"Semuanya kita pangkas, bukan cuma nikel, batu bara pun kita pangkas," tegas Bahlil dalam konferensi pers, Jumat (19/12) lalu.
Alasannya sederhana: mengatur supply and demand. "Hari ini harga batu bara anjlok semua," ungkapnya.
Dia memberi gambaran. Jumlah batu bara yang diperdagangkan global sekitar 1,3 miliar ton. Indonesia, produsen utama, memasok hampir setengahnya: 500-600 juta ton.
"Gimana harganya nggak jatuh?" ujarnya retoris. "Jadi kita akan mengatur. Tujuannya apa? Pengusahanya dapat harga yang baik. Negara juga dapat pendapatan yang baik."
Jadi, langkahnya sudah diambil. Tinggal eksekusi dan diplomasinya. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
IEA Peringatkan Kerusakan Aset Energi di Timur Tengah Picu Krisis Global