Pasar Tenaga Kerja Masih Jadi Tantangan Utama
Namun begitu, di balik optimisme itu ada masalah pelik yang menganga: pasar tenaga kerja. Bank Dunia menyorotinya sebagai tantangan serius yang bisa menghambat daya beli masyarakat.
“Walaupun stabilitas makroekonomi tetap terjaga, tantangan muncul dari pasar tenaga kerja yang berdampak terhadap kesejahteraan rumah tangga,” kata Bank Dunia.
Data menunjukkan kontribusi konsumsi swasta sedikit melemah. Turun dari 2,8 poin persentase di 2024 jadi 2,7 poin persentase tahun ini atau sekitar 53,3% dari total pertumbuhan PDB. Melemahnya konsumsi ini berjalan beriringan dengan kondisi ketenagakerjaan yang timpang.
Memang, penyerapan tenaga kerja naik 1,3 persen antara Agustus 2024 dan Agustus 2025. Tapi kenaikan itu didominasi lapangan kerja bergaji rendah, seperti jasa bernilai tambah minim dan pertanian. Upah riil pun terus tergerus sejak 2018. Struktur pasar tenaga kerja kian terpolarisasi: pekerjaan menengah menyusut, sementara posisi rendah dan tinggi justru bertahan.
Akibatnya, muncul kesenjangan yang cukup mengkhawatirkan. Secara angka, kemiskinan turun. Tapi jumlah rumah tangga yang "merasa" miskin malah bertambah. Rasa tidak aman secara ekonomi ini terutama menghantui kelas menengah, didorong oleh pendapatan yang fluktuatif dan tren upah riil yang stagnan. Alhasil, banyak yang memilih menabung lebih banyak sebagai bentuk antisipasi yang pada ujungnya bisa memperlambat putaran ekonomi.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 1,23% di Awal Sesi, Sentimen Hijau Dominasi Pasar
IHSG Bangkit 1,25% ke 7.110, Investor Masih Waspada Jelang Libur Panjang
IHSG Menguat 0,75% di Pembukaan Sebelum Libur Panjang Bursa
Pasar Saham Asia Menguat, Terdorong Penguatan Wall Street dan Meredanya Harga Minyak