Gudang di Bogor Berangkatkan 48 Ton Durian Beku, Langsung Menuju Pasar Raksasa China

- Selasa, 16 Desember 2025 | 03:42 WIB
Gudang di Bogor Berangkatkan 48 Ton Durian Beku, Langsung Menuju Pasar Raksasa China

Senin lalu, di sebuah gudang di Citeureup, Bogor, ada suasana yang berbeda. Sebanyak 48 ton durian beku akhirnya diberangkatkan. Tujuan akhirnya? Qingdao, China. Momen ini bukan sekadar pengiriman biasa, tapi ekspor perdana langsung ke Negeri Tirai Bambu yang resmi dibuka. Sebuah langkah bersejarah, kata banyak pihak.

Peluangnya memang luar biasa. Pasar durian di China itu raksasa, nilainya disebut-sebut mencapai Rp 128 triliun per tahun. Nah, dengan pintu ekspor langsung yang kini terbuka, Indonesia berani menatap potensi devisa yang fantastis: bisa menyentuh Rp 12,8 triliun setiap tahunnya. Pengiriman perdana senilai Rp 5,1 miliar itu hanyalah permulaan.

Aditya Pradewo dari Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) tak menyembunyikan antusiasmenya. Menurutnya, ini peluang emas yang ditunggu-tunggu para eksportir.

"Dengan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung, kami optimistis bisa merebut 5 sampai 10 persen pangsa pasar di sana. Angkanya bisa mencapai Rp 6,4 triliun hingga Rp 12,8 triliun per tahun," jelas Aditya.

Di sisi lain, keuntungannya tak cuma dari nilai jual. Ada penghematan biaya logistik yang signifikan. Selama ini, durian Indonesia harus memutar dulu ke Thailand sebelum akhirnya masuk China. Rutenya jadi panjang dan tentu saja, mahal.

Muchlido Apriliast dari PT Zarafa Ridho Lestari punya perhitungan nyata.

"Dulu biaya logistik lewat Thailand bisa mencapai USD 18.000 per kontainer. Sekarang, dengan ekspor langsung, kami cuma perlu sekitar USD 10.000 hingga USD 11.000. Hematnya hampir USD 8.000," ungkap Muchlido.

Perjalanan Panjang Menuju Kesepakatan

Namun begitu, momen bahagia ini hasil dari perjuangan panjang. Sahat Panggabean, Kepala Barantin, mengakui proses negosiasi dan pemenuhan syaratnya makan waktu hampir dua tahun. Selama ini, pasar durian beku China dikuasai tetangga-tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Posisi Indonesia cuma sebagai pemasok bahan baku untuk mereka.

"Ini realisasi ekspor perdana, wujud dari proses panjang yang butuh komitmen sumber daya besar," tegas Sahat.

Kerja sama pemerintah ke pemerintah (G to G) dengan otoritas karantina China (GACC) akhirnya berbuah manis. Puncaknya adalah penandatanganan protokol ekspor pada akhir Mei 2025 lalu di Jakarta.

Kualitas adalah Kunci

Tentu saja, China tak main-main soal standar. Untuk menjaga kepercayaan, syarat kualitasnya dibuat sangat ketat. Drama Panca Putra dari Barantin menekankan, aspek ketelusuran (traceability) adalah hal mutlak. Produk yang boleh dikirim mencakup daging durian, pasta, atau buah utuh. Proses pembekuannya pun harus ekstrem: minimal -30°C, dan dijaga pada suhu inti -18°C selama perjalanan.

"Eksportir wajib punya kebun atau kemitraan dengan petani bersertifikat, plus rumah kemas yang sudah teregistrasi di sistem mereka," papar Drama.

Saat ini, sudah ada delapan rumah pengemasan yang lolos seleksi dan terdaftar resmi. Tujuh berlokasi di Sulawesi Tengah, satunya lagi di Bogor.

Data terbaru menunjukkan, sepanjang tahun ini Indonesia telah mengekspor lebih dari 10 ribu ton durian. Thailand masih jadi tujuan utama, diikuti China dan Malaysia. Tapi dengan dibukanya keran langsung, peta persaingan ke depan dipastikan akan berubah. Durian beku Indonesia siap bersaing di pasar yang paling haus akan buah ini.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar