Namun begitu, momen bahagia ini hasil dari perjuangan panjang. Sahat Panggabean, Kepala Barantin, mengakui proses negosiasi dan pemenuhan syaratnya makan waktu hampir dua tahun. Selama ini, pasar durian beku China dikuasai tetangga-tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Posisi Indonesia cuma sebagai pemasok bahan baku untuk mereka.
Kerja sama pemerintah ke pemerintah (G to G) dengan otoritas karantina China (GACC) akhirnya berbuah manis. Puncaknya adalah penandatanganan protokol ekspor pada akhir Mei 2025 lalu di Jakarta.
Kualitas adalah Kunci
Tentu saja, China tak main-main soal standar. Untuk menjaga kepercayaan, syarat kualitasnya dibuat sangat ketat. Drama Panca Putra dari Barantin menekankan, aspek ketelusuran (traceability) adalah hal mutlak. Produk yang boleh dikirim mencakup daging durian, pasta, atau buah utuh. Proses pembekuannya pun harus ekstrem: minimal -30°C, dan dijaga pada suhu inti -18°C selama perjalanan.
Saat ini, sudah ada delapan rumah pengemasan yang lolos seleksi dan terdaftar resmi. Tujuh berlokasi di Sulawesi Tengah, satunya lagi di Bogor.
Data terbaru menunjukkan, sepanjang tahun ini Indonesia telah mengekspor lebih dari 10 ribu ton durian. Thailand masih jadi tujuan utama, diikuti China dan Malaysia. Tapi dengan dibukanya keran langsung, peta persaingan ke depan dipastikan akan berubah. Durian beku Indonesia siap bersaing di pasar yang paling haus akan buah ini.
Artikel Terkait
Badai Pasar Modal: IHSG Jatuh 7%, Pimpinan BEI dan OJK Serentak Mundur
Pemerintah Buka Keran Dana Pensiun dan Asuransi untuk Dongkrak Bursa
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram di Akhir Pekan
Commuter Line Bandung Raya Meluncur Lebih Jauh hingga Cicalengka