Target IPO BEI Dipangkas, OJK: Fokus Kualitas, Bukan Kuantitas

- Minggu, 14 Desember 2025 | 14:25 WIB
Target IPO BEI Dipangkas, OJK: Fokus Kualitas, Bukan Kuantitas

JAKARTA – Target jumlah perusahaan yang bakal melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat penawaran saham perdana atau IPO tahun ini, ternyata direvisi. Dari semula 66, kini cuma 45 perusahaan. Padahal, hingga saat ini, yang sudah beneran melantai baru 24 emiten. Lantas, apa penyebabnya?

Inarno Djajadi, selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, angkat bicara. Menurutnya, penurunan target ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Justru, ini menunjukkan pergeseran fokus.

"OJK bersama BEI menekankan agar emiten yang melakukan IPO memiliki fundamental yang kuat, tata kelola yang baik, serta keberlanjutan usaha yang memadai," jelas Inarno dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/12/2025).

Intinya, kata dia, yang dikejar sekarang adalah kualitas, bukan sekadar kuantitas. Dengan begitu, kredibilitas pasar tetap terjaga dan investor pun bisa lebih terlindungi.

Di sisi lain, ada juga faktor lain yang berperan. Sejumlah calon emiten rupanya memilih untuk menunda rencana IPO mereka. Mereka lebih memilih menunggu momentum pasar yang dirasa lebih tepat, sambil mempertimbangkan strategi bisnis internal dan tentu saja, kondisi pasar yang sedang berlangsung.

"OJK memandang dinamika ini sebagai bagian dari proses pendalaman pasar yang sehat dan berorientasi jangka panjang," imbuh Inarno.

Kalau dilihat dari pipeline yang ada, sebenarnya masih ada 13 perusahaan yang antre. Rinciannya, dua perusahaan skala kecil, empat skala menengah, dan yang cukup menarik, tujuh perusahaan lainnya masuk kategori aset skala besar. Jadi, potensinya masih ada, tinggal tunggu waktu eksekusinya saja.

Jadi, penurunan angka target IPO ini lebih kepada penyesuaian realitas dan strategi. Bukan berarti pasar modal Indonesia lesu, tapi mungkin sedang memilih untuk lebih matang sebelum melangkah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler