Dulu, sebelum ikut skema ini, urusan kebun sawit sendiri-sendiri kerap bikin was-was. Sekarang, ada kepastian.
Target Ambisius: 26 Ton per Hektare
Kebun-kebun plasma ini mulai menghasilkan (TM) sejak 2022. Dan tren produktivitasnya cukup menggembirakan. Syahrial membeberkan target yang optimistis.
Data internal menunjukkan peningkatan Yield per Hektare: dari 14,26 ton di 2022, melonjak ke 20,46 ton di 2023. Produksi total juga naik signifikan, dari 3.479 ton menjadi 6.122 ton pada 2025. Selain fokus pada kebun yang sudah berproduksi, ekspansi juga terus berjalan. Tahun ini saja, sudah ada pembukaan dan penanaman baru seluas 7,70 hektare.
Kemitraan ini dirancang untuk jangka panjang, 25 tahun. Di fase awal, semua modal dan infrastruktur dari perusahaan. Nantinya, biaya itu dikembalikan lepotong hasil panen. “Petani tidak perlu memikirkan teknis kebun. Standarnya mengikuti standar perusahaan, sehingga performanya bisa maksimal,” pungkas Syahrial.
Lahan di sini didominasi tanah mineral, dengan topografi 41 persen datar dan 59 persen berbukit faktor yang sedikit banyak mempengaruhi akses dan perawatan. Tapi dengan bibit unggul LonSum yang digunakan seratus persen, harapan untuk mencapai target produksi itu tetap menggelora.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tantang Investor: Tertawakan Saya, Tapi Jangan Lupa Investasi
Cincin Donat untuk Pejalan Kaki: MRT Jakarta Rancang Jembatan Melingkar di Dukuh Atas
Pertamina Usul Batasi Pembelian LPG 3 Kg Maksimal 10 Tabung per KK Mulai 2026
LPS Soroti Suku Bunga Simpanan yang Belum Turun Sesuai Sinyal Pasar