Ia menjelaskan, hanya sebagian kecil area di pinggiran kebun yang terendam. Kerusakan yang ditimbulkan pun disebut tidak berarti. Yang penting, operasional sudah kembali normal sejak tanggal 2 Desember lalu. Artinya, aset produksi dan karyawan mereka aman-aman saja.
Lahan anak usaha CSRA itu sendiri punya Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU). Kontribusinya bagi perusahaan terbilang solid. Coba lihat, sampai November 2025, pendapatannya sudah menembus angka Rp681,1 miliar. Cukup signifikan, kan?
Memang, bencana ini cukup serius. Curah hujan ekstrem bikin sungai-sungai meluap, merendam Aceh, Sumut, hingga Sumbar. Banyak aktivitas lumpuh, termasuk di perkebunan. Namun begitu, kabar dari CSRA ini setidaknya memberi gambaran bahwa operasional di lapangan perlahan mulai pulih. Meski begitu, tetap saja bencana ini jadi pengingat betapa rentannya aktivitas ekonomi terhadap gangguan alam.
Artikel Terkait
Saham Energi Grup Boy Thohir Menguat, Didorong Harga Batu Bara dan Proyek Smelter
IHSG Melonjak 1,23% di Awal Sesi, Sentimen Hijau Dominasi Pasar
IHSG Bangkit 1,25% ke 7.110, Investor Masih Waspada Jelang Libur Panjang
IHSG Menguat 0,75% di Pembukaan Sebelum Libur Panjang Bursa