PT Mandiri Manajemen Investasi baru saja mengumumkan sebuah kolaborasi strategis. Mereka menggandeng Pegadaian dan Deutsche Bank untuk menciptakan sesuatu yang baru di pasar modal Indonesia: Reksa Dana Bursa (RDB) Syariah berbasis emas yang pertama.
Sebelumnya, Mandiri Investasi sudah lebih dulu bekerja sama dengan Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan, dan Bank Syariah Indonesia (BRIS) sebagai mitra Bullion Bank. Intinya, mereka sedang membangun sebuah ekosistem lengkap.
Targetnya jelas: meluncurkan produk investasi emas yang inovatif ini di awal 2026. Semua persiapan teknis, mulai dari penyimpanan emas fisik hingga infrastruktur perdagangan, sedang digarap intensif oleh para mitra dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Direktur Mandiri Investasi, Ernawan Rahmat Salimsyah, kolaborasi ini punya tujuan yang konkret.
"Kami ingin menghadirkan ekosistem RDB Emas Syariah yang likuid, terjangkau, dan mudah diperdagangkan seperti saham di BEI. Produk ini akan didukung emas fisik murni yang disimpan di Bullion Bank dan tentu saja, memenuhi prinsip syariah," jelas Ernawan dalam keterangan resmi, Selasa (9/12/2025).
Di sisi lain, Selfie Dewiyanti, Direktur Pemasaran Pegadaian, menyoroti proses regulasi yang menjadi kunci peluncuran.
"Semua proses kami arahkan agar produk siap diluncurkan segera setelah OJK menerbitkan POJK terkait. Peraturan itu saat ini sudah masuk tahap finalisasi," ujar Selfie.
Pengalaman Mandiri Investasi mengelola dana dengan underlying ETF emas global dianggap sebagai fondasi yang kuat. Pengalaman itulah yang akan dipakai untuk menciptakan produk domestik berstandar internasional.
Dalam kerja sama ini, peran masing-masing mitra sudah jelas. Pegadaian akan bertindak sebagai Bullion Bank, sementara Deutsche Bank mengambil peran sebagai Bank Kustodian.
"Pegadaian akan menyediakan dan menyimpan emas fisik yang menjadi dasar aset RDB ini. Sebagai Bullion Bank pertama di Indonesia, kami siap mendukung kehadiran produk yang lebih aman dan terjangkau ini," tambah Selfie.
Kehadiran Deutsche Bank sebagai kustodian diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor. Bank global ini punya track record panjang dalam mengadministrasikan ETF, baik berbasis efek maupun emas, di berbagai pasar dunia.
Produk ini dirancang untuk mengikuti dinamika harga emas global dengan biaya yang kompetitif. Ernawan meyakini, RDB Emas Syariah ini akan menjadi solusi investasi modern.
"Ini adalah alternatif yang lebih praktis dibanding menyimpan emas fisik. Produknya mudah, transparan, dan cocok bagi investor yang mencari safe haven atau diversifikasi portofolio," paparnya.
Optimisme Mandiri Investasi cukup tinggi. Mereka yakin produk ini akan disambut baik oleh investor ritel maupun institusi, dan menjadi katalis pertumbuhan Aset Kelolaan (AUM) perusahaan di tahun 2026.
Hingga 4 Desember 2025, dana kelolaan konsolidasi Mandiri Investasi tercatat telah melampaui angka Rp80 triliun. Proyeksi ke depannya, angka ini masih akan terus meningkat.
Artikel Terkait
Danantara Klaim Pertemuan dengan 122 Investor AS Pulihkan Kepercayaan Pasar Global terhadap Ekonomi Indonesia
Kesepakatan AS-Iran Redakan Ketegangan Global, Bitcoin Tembus 65.900 Dolar AS
Sepuluh Saham Ini Catat Pertumbuhan Investor Tertinggi di Tengah IHSG Terkoreksi 11,92 Persen pada Mei 2026
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk Raup Rp498 Miliar dari Private Placement, Dua Investor Institusi Masuk