Pasar minyak kembali bergerak naik di akhir sesi Kamis kemarin. Sentimen investor yang optimis, didorong spekulasi bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga, jadi pendorong utamanya. Di sisi lain, kabar kurang menggembirakan datang dari meja perundingan Ukraina. Proses damai yang mandek itu meredam harapan bakal ada kesepakatan yang bisa membuka kembali keran ekspor minyak Rusia ke pasar global.
Minyak mentah Brent menguat 59 sen, atau sekitar 0,94 persen, ke level USD 63,26 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), naik lebih signifikan 72 sen (1,22%) menjadi USD 59,67.
Lain cerita dengan batu bara. Komoditas yang satu ini tampak diam di tempat, tak beranjak dari posisi USD 108,50 per ton.
Ada tekanan yang cukup terasa di pasar minyak kelapa sawit atau CPO. Harganya merosot 1,2 persen, hingga akhirnya bertengger di MYR 4.106 per ton. Penurunan ini menghentikan tren positif yang sempat terjadi sebelumnya.
Untuk nikel, pergerakannya boleh dibilang sangat datar. Hanya naik tipis 0,07 persen saja, sehingga harga akhirnya tercatat di angka USD 14.885 per ton. Pasar seperti sedang menunggu sinyal jelas sebelum bergerak lebih agresif.
Sementara itu, timah justru mengalami pelemahan. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga logam ini anjlok 0,98 persen pada penutupan perdagangan Selasa lalu. Akhirnya, timah ditutup di level USD 40.378 per ton. Pelemahan ini menarik, mengingat performanya yang cukup solid dalam beberapa pekan terakhir.
Artikel Terkait
MNC Digital Entertainment Ajukan Pencatatan Saham Sekunder di Bursa Hong Kong
KAI Tutup Sementara Commuter Line Stasiun Bekasi Timur Usai Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek, 6 Tewas
IHSG Diprediksi Terkoreksi, MNC Sekuritas Rekomendasikan Empat Saham Buy on Weakness
Wall Street Lesu di Awal Pekan, Investor Waspadai Negosiasi AS-Iran hingga Keputusan Suku Bunga The Fed