Emas Bisa Melonjak 30% di 2026, Asal Dunia Makin Kacau

- Jumat, 05 Desember 2025 | 05:06 WIB
Emas Bisa Melonjak 30% di 2026, Asal Dunia Makin Kacau

Menurut laporan terbaru World Gold Council, prospek emas di tahun 2026 tampak cerah. Bahkan, logam mulia ini berpeluang melesat hingga 30 persen. Tapi, tentu saja, dengan satu syarat besar: jika ekonomi global benar-benar limbung dan ketegangan geopolitik makin menjadi-jadi.

Laporan bertajuk Gold Outlook 2026 itu menyoroti beberapa faktor kunci. Pergerakan harga emas tahun depan, kata mereka, masih akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan suku bunga The Fed. Belum lagi tensi geopolitik yang masih panas dan sulit diprediksi.

“Harga emas kemungkinan tetap bergerak dalam rentang yang sempit jika kondisi makro saat ini berlanjut,”

Begitu bunyi kutipan dari laporan yang dirilis Kamis (4/12) lalu. Meski pasar terlihat stabil, potensi kejutan tetap mengintai.

Nah, mari kita lihat skenario pertama yang digambarkan WGC. Jika ekonomi hanya mengalami perlambatan ringan, emas diproyeksi naik 5 sampai 15 persen. Kenapa bisa begitu? Rupanya, ini karena dolar AS yang melemah, suku bunga yang turun, dan tentu saja, sentimen mencari aset aman yang meningkat.

“Kombinasi suku bunga yang lebih rendah, dolar yang melemah, serta meningkatnya risiko keraguan dapat menciptakan lingkungan yang tetap mendukung emas. Dalam skenario ini, emas dapat naik 5 persen hingga 15 persen pada 2026,”

Begitu penjelasan mereka.

Namun begitu, skenario yang lebih ekstrem justru bisa mendorong kenaikan yang lebih fantastis. Bayangkan jika pelemahan ekonomi lebih dalam dan risiko geopolitik melonjak. Dalam situasi serba tak menentu itu, emas berpeluang meroket 15 hingga 30 persen sepanjang 2026.

Pemicunya? Arus dana besar-besaran masuk ke ETF emas, investor berhamburan mencari tempat aman, dan imbal hasil obligasi yang terjun bebas. Kombinasi itu bisa jadi bahan bakar yang sempurna untuk rally harga.

Tapi jangan salah, WGC juga mengingatkan soal risiko. Peluang kenaikan memang terbuka lebar, namun emas juga bisa tertekan. Apa pasal? Jika ekonomi AS justru menunjukkan kekuatan lebih cepat dari perkiraan dan inflasi kembali menggila, situasi bisa berbalik arah.

“Dengan dilonggarkannya lindung nilai dan melemahnya permintaan ritel, kondisinya berubah menjadi sangat negatif, mengakibatkan koreksi harga emas antara 5 persen dan 20 persen dari level saat ini,”

Demikian peringatan dari lembaga tersebut.

Perlu diingat, emas sejauh ini punya catatan yang luar biasa. Sepanjang 2025, logam kuning ini mencatat lebih dari 50 rekor harga tertinggi sepanjang masa, dengan imbal hasil melampaui 60 persen. Kinerja gemilang ini tak lepas dari ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang makin tinggi, dolar AS yang melemah, dan momentum positif yang terus berlanjut.

“Baik investor maupun bank sentral telah memperbesar alokasi mereka terhadap emas untuk mencari diversifikasi dan stabilitas,”

Demikian kesimpulan dalam laporan itu. Tampaknya, di tengah dunia yang serba tak pasti, kilau emas masih menjadi daya tarik yang kuat bagi banyak pihak.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar